Menyoal Nama dan Substansi, Banyuputih atau Baluran
Dilansir.id, Opini – Belakangan ini, ada satu isu yang berulang dibicarakan orang-orang di Situbondo. Dari obrolan santai sampai diskusi yang agak serius. Soalnya tentang rencana perubahan nama Kecamatan Banyuputih menjadi Kecamatan Baluran. Sepintas, ini terlihat sederhana. Urusan administrasi, urusan papan nama. Selesai.
Tapi setelah saya berbincang cukup lama dengan Kiai Afifuddin Muhajir, rasanya persoalan ini tidak sesederhana itu. Kegelisahan yang muncul bukan semata soal setuju atau tidak setuju pada perubahan nama. Yang lebih mengusik justru pertanyaan yang lebih mendasar: sedang ke mana arah cara berpikir kita tentang pembangunan? Apakah kita sedang sungguh-sungguh mengurus isi, atau tanpa sadar justru terlalu sibuk mengutak-atik sampul.
Kiai Afif menyampaikan sebuah perumpamaan yang sangat sederhana. Amerika Serikat, kata beliau, ibu kotanya adalah Washington D.C. Tapi ketika orang di berbagai belahan dunia menyebut Amerika, yang terlintas di benak mereka sering kali justru New York. Padahal New York bukan ibu kota. Ia dikenal bukan karena status administratif, tetapi karena substansi yang tumbuh di sana: ekonomi, pendidikan, budaya, dan denyut peradaban.
Dari sini pelajarannya menjadi terang. Kemajuan tidak lahir dari nama. Ia lahir dari kerja nyata. Dari isi, bukan dari label. Dalam konteks Banyuputih, hal serupa sebenarnya sudah lama kita saksikan. Yang dikenal luas bukan nama kecamatannya, tetapi Sukorejo. Bukan karena papan nama, melainkan karena pesantren, karena ilmu, karena jejaring keilmuan dan sosial yang hidup.
Maka pertanyaannya wajar: apa urgensinya mengganti nama kecamatan, sementara persoalan-persoalan yang lebih mendasar masih kita rasakan setiap hari? Jalan rusak, ekonomi warga yang belum kuat, layanan publik yang belum merata. Jangan-jangan kita sedang sibuk memperindah bungkus, sementara isinya dibiarkan apa adanya.
Soal nama juga tidak bisa dilepaskan dari ingatan. Nama bukan sekadar tulisan di dokumen. Ia menyimpan sejarah, memori, dan ikatan batin. Dalam ingatan sebagian masyarakat, nama Baluran membawa jejak masa lalu tertentu. Terlepas dari bagaimana kita menilainya secara akademik, memori semacam ini hidup.
Banyuputih hari ini bukan sekadar titik di peta administratif Situbondo. Ia adalah ruang di mana napas religiusitas benar-benar terasa hidup di setiap jengkal kesehariannya. Di sana, pesantren bukan hiasan, melainkan jantung. Santri yang datang dan pergi, kajian yang tak pernah putus, hingga nilai-nilai agama yang mendarah daging, semua itu adalah identitas yang nyata. Maka, sangat wajar jika warga merasa gelisah.
Tentu, kita semua sepakat bahwa Baluran adalah nama besar. Taman Nasional Baluran adalah kebanggaan yang tak perlu lagi diperdebatkan. Namun, pertanyaannya sangat mendasar: apakah untuk menonjolkan sebuah kebanggaan simbolik, kita harus tega menanggalkan identitas yang sudah lama berdenyut di tengah masyarakat? Apakah urusan klaim label jauh lebih berharga ketimbang kerja-kerja nyata yang manfaatnya langsung menyentuh hajat hidup orang banyak?
Akhirul kalam, Banyuputih memiliki cerita sejarah. Ia punya cerita dan ikatan emosional yang teramat dalam bagi warganya. Kemajuan sebuah daerah tak pernah diukur dari seberapa sering kita mengganti “bungkus” atau papan nama, melainkan seberapa jauh perubahan itu hadir mengangkat martabat rakyatnya.
Membangun Situbondo tidak harus dilakukan dengan cara menanggalkan jati diri yang sudah ada. Yang kita butuhkan saat ini bukanlah nama baru, melainkan cara pandang baru: bahwa pembangunan sejati selalu dimulai dari pembenahan isi, bukan sekadar memoles kosmetik simbolik. Jika substansinya kuat, identitas itu akan menemukan kehormatannya sendiri dengan sendirinya.
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag
(Ketua JASMINU Situbondo / Ketua DPD PAN Situbondo)
___________________________
• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.