Menata Ulang Prioritas: Catatan Santai Tapi Serius untuk Pemkab Situbondo (Peresmian Pendopo Pati Alos Pentingkah?)
Dilansir.id, Opini – Tulisan ini bukan lahir dari rasa benci, sama sekali bukan. Justru sebaliknya, ia lahir dari harapan. Harapan agar Situbondo bisa melangkah lebih baik, dan pemerintah daerahnya makin peka membaca keadaan. Karena cinta pada daerah kadang memang harus diwujudkan lewat kritik, bukan lewat tepuk tangan terus-menerus.
Pertanyaannya sederhana saja: “apakah ini waktu yang tepat untuk merayakan, ketika sebagian warga masih sibuk menguras air banjir dari rumahnya”?
Saat air masih menggenangi rumah warga, saat petani masih menghitung kerugian karena sawah terendam, acara besar yang dirayakan dengan gegap gempita terasa kurang pas momennya. Ini bukan soal membenci acara atau menolak program. Ini soal empati.
Menunda acara di tengah bencana bukan tanda pemerintah kalah wibawa. Justru sebaliknya, itu tanda kepemimpinan yang punya rasa. Rakyat Situbondo pasti lebih legowo jika pemimpinnya memilih fokus dulu pada pemulihan warga, baru kemudian bicara soal perayaan dan seremoni. Kadang, yang dibutuhkan rakyat bukan panggung, tapi kehadiran.
Penetapan cagar budaya tentu patut diapresiasi. Budaya memang aset penting. Tapi pertanyaan lanjutannya tidak boleh berhenti di seremoni: “apa dampak ekonominya yang benar-benar”?
Kalau yang disentuh hanya UMKM, tanpa ekosistem yang serius—pelatihan, akses pasar, infrastruktur, pendampingan—maka dampaknya akan segitu-gitu saja. Bahkan bisa jadi hanya ramai di awal, sepi di tengah jalan. Yang perlu dijelaskan Pemkab sederhana saja:
setelah ditetapkan, lalu apa?
bagaimana budaya ini diolah jadi kekuatan ekonomi?
siapa saja yang terlibat?
apa peta jalannya?
Tanpa roadmap yang jelas, program besar berisiko hanya jadi simbol. Indah di baliho, tipis di manfaat.
Kita pernah punya cerita Asembagus. Dulu digadang-gadang sebagai “kota kedua” Situbondo. Faktanya? Sampai hari ini, tantangannya masih itu-itu saja. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk belajar.
Sekarang giliran Besuki. Jangan sampai mengulang cerita yang sama: launching meriah, implementasi melempem. Evaluasi jujur itu penting. Apa yang gagal dulu? Kenapa gagal? Jangan takut mengakui kekurangan. Yang berbahaya justru mengulang kesalahan dengan wajah baru.
Acara seremonial itu perlu. Tidak haram. Tapi kalau yang menonjol hanya acaranya, sementara dampak jangka panjangnya samar, kita patut bertanya: ini untuk siapa?
Setelah acara cagar budaya, ada lagi Anyer Panarukan. Lalu apa lagi?
Rakyat Situbondo sejujurnya tidak kekurangan acara. Yang kurang itu jalan yang tahan hujan, layanan kesehatan yang mudah, sekolah yang berkualitas, dan lapangan kerja yang nyata.
Masyarakat tidak hidup dari dokumentasi medsos. Mereka hidup dari kebijakan yang benar-benar bekerja.
Situbondo punya modal besar: budaya kuat, alam melimpah, masyarakatnya tahan banting. Yang dibutuhkan tinggal satu: keberanian menggeser fokus.
Dari seremonial ke substansial.
Dari simbolik ke transformatif.
Membangun daerah bukan soal seberapa megah panggungnya, tapi seberapa nyata dampaknya. Bukan soal seberapa sering acara digelar, tapi seberapa konsisten kebijakan dijalankan.
Kritik ini disampaikan dengan niat baik. Dengan harapan Pemkab Situbondo mau mendengar, merenung, lalu berbenah. Karena Situbondo layak mendapat lebih dari sekadar acara meriah. Situbondo layak mendapatkan masa depan yang benar-benar sejahtera.
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag
(Ketua JASMINU Situbondo / Ketua DPD PAN Situbondo)
___________________________
• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.