Budaya Curiga, Krisis Percaya
Dilansir.id, Opini – “Ketika kecurigaan tidak lagi berhenti sebagai alat, melainkan berubah menjadi ekosistem berpikir.”
Kita seperti hidup dalam satu kesadaran kolektif, bahwa kita tidak boleh berhenti curiga. Seolah-olah, berhenti curiga sama dengan menyerahkan akal sehat pada kesewenang-wenangan. Dalam logika ini, kecurigaan menjadi bentuk paling sederhana dari sikap kritis. Ia bukan lagi sekadar responsibility sadar terhadap kejanggalan, tetapi telah menjelma menjadi sikap dasar dalam memandang realitas.
Di titik tertentu, kecurigaan memang perlu. Ia adalah pintu masuk bagi nalar kritis. Tanpa curiga, kita mudah diperdaya narasi, mudah terpesona retorika, mudah terseret arus opini. Namun problematical akan muncul ketika kecurigaan tidak lagi berhenti sebagai alat, melainkan berubah menjadi ekosistem berpikir.
Ambil contoh, sebut saja Tyo. figur anak muda yang lagi rame saat ini. Anak muda seperti Tyo akan selalu hadir dalam ruang publik sebagai simbol energi baru, suara alternatif, bahkan harapan perubahan. Tetapi dalam iklim yang dipenuhi kecurigaan, Tyo tidak pernah hadir sebagai dirinya sendiri. Ia segera dibaca sebagai “siapa di belakangnya”. Ia tidak dilihat sebagai subjek, melainkan sebagai kemungkinan skenario.
Maka muncullah lapisan-lapisan kecurigaan:
Tiyo aktif?. Jangan-jangan ia sedang dipersiapkan. Tiyo kritis?. Jangan-jangan ia sedang mengaktifkan kecurigaan publik secara sistematis. Tiyo tampak independen?. Jangan-jangan independensinya adalah desain paling rapi.
Lalu pertanyaan mengambang; oleh siapa ia dipersiapkan?
Untuk menjawab itu, dibutuhkan kecurigaan yang lebih dalam lagi. Dan ketika jawaban terasa tidak memuaskan, kecurigaan diperluas lagi. Begitu seterusnya. Ia menjadi spiral yang tidak pernah selesai.
Di sinilah problematikq epistemik muncul. Kecurigaan yang semula sebagai alat verifikasi berubah menjadi mesin dekonstruksi tanpa ujung. Semua dibongkar, tetapi tidak ada yang dibangun. Semua dipertanyakan, tetapi tidak ada yang disusun ulang.
Ruang publik Indonesia akhirnya tampak hidup, ramai, dinamis, penuh percakapan. Media sosial riuh, diskusi politik marak, opini berseliweran. Secara permukaan, ini terlihat sehat. Demokrasi tampak bernafas. Namun jika dicermati, banyak energi habis pada pembongkaran motif, bukan pada perumusan solusi.
Iklim ini cenderung dekonstruktif, bukan rekonstruktif. Dekonstruksi memang penting untuk meruntuhkan kebohongan dan membongkar kemunafikan. Tetapi tanpa rekonstruksi, kita hanya memindahkan puing-puing. Kita sibuk meragukan aktor, tetapi lalai memperkuat sistem. Kita gemar mencurigai individu, tetapi jarang membangun institusi.
Kecurigaan yang sehat seharusnya berujung pada identifikasi, mediasi, klarifikasi, verifikasi, lalu keputusan rasional, dan atau aksi demonstrasi. Namun ketika kecurigaan menjadi budaya, ia menciptakan paradoks, setiap orang aktif sekaligus dicurigai; setiap gerakan dicatat sekaligus dipertanyakan; setiap niat diasumsikan memiliki agenda tersembunyi.
Akibatnya, generasi muda seperti Tiyo tumbuh dalam dua beban sekaligus: dituntut kritis dan dituntut siap dicurigai. Bahkan lebih jauh, ia harus curiga pada dirinya sendir, jangan-jangan ia tanpa sadar sedang menjadi alat.
Di titik ini, kecurigaan bukan lagi tanda kecerdasan, tetapi tanda ketidakpercayaan struktural yang kronis. Publik kehilangan kepercayaan pada sistem, sehingga segala sesuatu dibaca sebagai permainan. Politik dianggap panggung rekayasa. Aktivisme dianggap proyek. Kepedulian dianggap strategi pencitraan.
Pertanyaannya, sampai kapan kita berputar dalam iklim seperti ini?. Jika kecurigaan adalah fondasi awal berpikir kritis, maka keberanian membangun adalah tahap kedewasaannya. Tanpa tahap kedua, kita hanya akan terlihat asyik berdiskusi, tampak dinamis, tetapi sebenarnya berputar di tempat itu itu aja.
Ruang publik yang sehat bukan hanya yang pandai mencurigai, tetapi yang mampu menilai dengan proporsional dan kemudian menyusun ulang kepercayaan secara rasional.
Mungkin yang perlu kita waspadai bukan hanya “siapa di balik Tiyo”, tetapi juga “apa yang terjadi pada cara kita berpikir kritis”. Jangan-jangan kita telah mempersiapkan diri sendiri untuk hidup selamanya dalam kecurigaan. dan lupa bagaimana caranya membangun.
Penulis: Usman Adhim Hasan, S.H.I.
(Pemerhati Pendidikan & HKI)
_____________________________
• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.