Integritas, Ketika “Kita” Harus Bercermin
Dilansir.id, Opini – Catatan ini sengaja saya awali dengan kata “kita”. Mengapa? Karena persoalan yang ingin dibicarakan bukan tentang satu atau dua orang, melainkan tentang kebanyakan dari kita sebagai manusia.
Sesungguhnya, dunia tidak pernah kekurangan orang pintar. Gelar akademik terus bertambah, kemampuan teknis semakin canggih, dan wawasan makin luas. Namun yang sering terasa langka adalah integritas, keselarasan antara ucapan, sikap, dan tindakan.
Integritas bukan sekadar kata yang indah dalam narasi pidato atau catatan, tetapi komitmen untuk tetap teguh pada nilai yang diyakini, bahkan ketika situasi tidak menguntungkan.
Kata tersebut tentu sering kita dengar di ruang kelas, forum diskusi, hingga perdebatan santai di warung kopi. Ia terdengar gagah dan meyakinkan, namun dalam praktiknya, realitas justru kerap menunjukkan kebalikannya.
Tidak sedikit orang yang rela mengorbankan nilai demi alasan pragmatis, “tidak ada pilihan lain,” “demi popularitas,” atau “demi menjaga citra.” Alasan-alasan itu terdengar masuk akal, tetapi perlahan mengikis prinsip.
Lalu, apakah realitas memang sepahit itu? Saya masih berani menjawab, tidak sepenuhnya. Selama masih ada orang-orang yang berusaha bertahan pada nilai, harapan tetap hidup.
Memang, tekanan zaman sering membuat sebagian dari kita memilih menyesuaikan diri dengan arus, bahkan ketika arus itu bertentangan dengan nurani. Namun pilihan untuk tetap berintegritas selalu ada.
Saya pun kerap merasa belum mampu sepenuhnya menjelaskan dan membuktikan pentingnya integritas dalam kehidupan sosial. Nilai ini sering tidak terlihat dalam ruang yang penuh gemerlap cahaya. Ia tidak selalu membawa luxury.
Terkadang ia justru hadir dalam kesunyian, dalam small decides yang tidak banyak disorot.
Padahal, kita tidak pernah kekurangan teladan. Dalam kehidupan beragama, sosok paling utama tentu adalah Nabi Muhammad SAW.
Integritas beliau tercermin dalam kejujuran, konsistensi, dan tanggung jawabnya baik dalam urusan ibadah, sosial, perdagangan, maupun rumah tangga. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa nilai bukan sekadar teori, melainkan laku hidup sehari-hari.
Mungkin ada yang berkata, “Kita bukan Nabi.” Itu benar. Namun pernyataan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti meneladani nilai-nilai baik yang beliau contohkan.
Integritas bukan soal menjadi sempurna, melainkan tentang kesungguhan untuk terus memperbaiki diri.
Selain itu, sebenarnya sejarah bangsa ini juga menghadirkan banyak figur berintegritas. Kita mengenal Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Mohammad Hatta, Buya Hamka, Haji Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, hingga Tan Malaka. Mereka hidup dalam tantangan zamannya masing-masing, senantiasa mengusahakan akan prinsip bisa terus terjaga.
Menjadi seperti mereka memang tidak mudah, tetapi keberadaan mereka membuktikan bahwa integritas bukan sesuatu yang mustahil.
Lantas, dari mana kita memulai? Mulailah dari hal paling sederhana. Jika kita meyakini adanya Tuhan Yang Esa dan ajaran-ajaran yang telah disampaikan, maka praktikkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari.
Integritas tumbuh dari kebiasaan kecil seperti jujur dalam ucapan, konsisten dalam janji, dan adil dalam keputusan.
Jika muncul pertanyaan, “Apakah saya sudah cukup berintegritas?” maka jawabannya mungkin belum sepenuhnya. Saya pun masih belajar.
Integritas adalah proses, bukan hasil instan. Ia perlu ditumbuhkan, dirawat, dijaga, dan diperkuat seiring waktu.
Bagi saya, integritas adalah nilai yang mahal dan berharga. Ia adalah kesesuaian antara prinsip yang diyakini dengan tindakan yang dijalani.
Tanpa integritas, kecerdasan kehilangan arah, dan kekuasaan kehilangan makna.
”Ketika kita memberikan contoh integritas, orang akan meniru. Kepemimpinan integritas dimulai dari hal-hal kecil” – Anies Baswedan
“Carilah tiga hal pada seseorang: Kecerdasan, Semangat dan Integritas. Kalau dia punya yang terakhir, maka dua lainnya tidak berarti” – Warren Buffett
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Catatan ini pada akhirnya adalah pengingat untuk diri sendiri, agar terus belajar, memperbaiki diri, dan berusaha menjaga nilai hingga akhir hayat. Dalam beragama, berbangsa, dan bernegara, integritas tidak hanya sebagai pilihan, melainkan fondasi bagi kehidupan.
Penulis: M. Rozien Abqoriy
(Rakyat sipil)
_____________________________
• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.