Mimpi Terakhir Seorang Koboy Kampus
Dilansir.Id – Senin di pagi yang mendung kala itu tepat pada jam 10:00 WIB, udara terasa membosankan tidak seperti biasanya dan menyimpan seribu tigaratus ketegangan yang sulit diterjemahkan. Di depan ruangan Kaprodi semua mahasiswa angkatan tua berkumpul dengan raut wajah yang muram, seolah wajah segar yang sumringah di pagi ini tak nampak selayaknya pagi-pagi yang lalu.
Hingga sampai pada pertanyaan ‘’kapan lulus.’’ Ucap KAPRODI, pertanyaan itu membuat kita luluh lantah sembari kebingungan untuk menjawabnya. Apalagi dengan nada pertanyaan yang agak menehok terhadap kita mahasiswa koboy kampus ini, lalu saya berucap dalam hati kapan selesainya ceramah pagi ini.
Hari itu pikiran saya cukup disertai dengan pikiran yang semraut dan berantakan. Bukan karena tak ingin menjawab, tetapi karena benar-benar tak tahu harus mengatakan apa dalam setiap penggalan pertanyaan yang di keluarkan. Kadang, di kampus yang penuh dengan ceramah tentang kedisiplinan akademik ini, hal paling mustahil adalah menjawab pertanyaan yang paling sederhana seperti pertanyaan diatas.
Ceramah pagi itu cukup singkat. Namun, menyesakkan dan menyadarkan saya bahwa pentingnya lulus tepat pada waktunya. Karena masa mahasiswa saya akan segera berakhir dan tak bisa diperpanjang lagi.
Artinya visa kemahasiswaan itu tidak bisa di negosiasi lagi hingga dalam beberapa semester kedepan, saya tidak dapat lagi beraktivitas sebagaimana layaknya menjadi mahasiswa.
Saya teringat pada tahun 2019 adalah tahun yang begitu berarti bagi saya karena memiliki kesempatan yang sangat luar biasa bisa menyandang gelar mahasiswa, sebuah mimpi anak desa yang begitu berarti ditengah kering kerontangnya iklim pendidikan kampung di pelosok pulau yang belum terjamah sama sekali arus kehidupan kota hingga dapat bercita-cita tinggi layaknya Bacharuddin Jusuf Habibie
Semuanya terasa begitu mesra saat dimana saya mulai teringat dengan masa-masa diskusi di pojok-pojok kampus yang penuh dengan kabut tebal asap tembakau Tambeng Besuki, demonstrasi, bahkan kisah romantisme yang tak kunjung usang untuk diingat Kembali.
Mimpi terbesar saya sebagai mahasiswa hari ini cukup sederhana ‘’lulus tepat waktu.’’ Tetapi sungguh ironi betapa sesuatu yang dulu saya anggap remeh kini menjadi cita-cita sederhana agar menjadi bagian dari mahasiswa normal selayaknya orang-orang pada umumnya.
Pada saat kuliah, saya selalu datang ke kelas untuk mendengarkan ceramah dosen walaupun terkadang membosankan, layaknya musik rock dan juga seringkali membantahnya dengan argumentasi. Hingga dunia seperti ini yang selalu saya idamkan sekalipun agak gaduh, karena dengan dunia itu yang dapat mepertajam pengetahuan saya sebagai mahasiswa kampung.
Di tengah semester yang begitu melelahkan bagaikan mendaki gunung Everest. Saya memutuskan untuk mengasingkan diri sejenak dari riuhnya kehidupan kota yang penuh dengan kepalsuan. Gunung mejadi pilihan tempat yang tepat bagi mahasiswa akhir seperti saya yang sudah lelah dengan pertanyaan-pertanyaan “kapan di wisuda.” Di gunung saya bisa menjadi pribadi yang bebas bercengkrama dengan luasnya semesta sembari mendengarkan kicauan burung yang begitu tulus.
Bersama teman-teman organisasi yang saya geluti, saya pikir dengan mendaki gunung semua persoalan yang membuncah di kepala saya akan mengecil layaknya rumah-rumah di kaki gunung Arjuno ketika kita pandangi dari ketinggian puncak. Ternyata saya salah, justru yang saya dapatkan hanya ketenangan sesaat ketika udara segar menampar raut wajah dan memandangi kota Ngalam dari ketinggiaan serta teman-teman yang tersenyum manis saat berada di puncak.
Dari puncak gunung Gragal, kami sambil menatap satu sama lain, lalu ada yang nyeletuk “awas habis ini selesaikan urusan kampusnya.” Ucap teman saya lirih, hingga kita tertawa terbahak-bahak.
Kami yang mendengarkan peringatan sederhana itu seketika terdiam bisu seolah bibir kami terjahit rapi. Namun, nasehat tersebut menyimpan makna begitu dalam.
Suasana pagi yang cerah menjadi mendung tatkala bumi ingin meneteskan air matanya dari langit membuat saya berpikir ulang hingga berucap lirih, “what I have to do after this.”
Teman saya yang duduk di samping sambil seruput kopi hangat diatas ketinggian 1400 MDPL sembari memecahkan keheningan dengan merayu sosok perempuan yang bekerudung putih dengan senyuman elok yang dia tampilkan kepada kami hingga saya cukup terbawa dengan alunan senyumannya yang indah itu.
Selesai dari puncak akhirnya kami bergegas turun sambil terengah-engah dari saking terjalnya track Gunung Gragal dan kembali ke tempat camp untuk berberes lalu pulang ke kos masing-masing untuk bersua kembali dengan tugas-tugas usang dari dosen.
Namun, yang paling menyedihkan dari kehidupan kampus bukanlah soal tugas atau skripsi. Justru orang-orangnya yang begitu menyebalkan, saya melihat terlalu banyak dari kalangan mahasiswa, dosen, yang kehilangan integritas serta hipokrit.
Mereka sibuk menciptakan topeng kesucian dan berlomba-lomba tampil benar, padahal yang paling saya khawatirkan adalah ketika kita tidak benar-benar merdeka selama menjadi manusia sebagaimana yang di ungkapankan oleh tokoh cendekiawan indonesia Nurcholish Madjid.
Di kampus saya, ada banyak mahasiswa yang anti dengan budaya dansa karena bagi mereka itu adalah warisan kolonial dan bukan budaya Nusantara. Karena menampilkan lekukan tubuh bisa merusak moral bangsa.
Bagi saya mereka dalam memandang dunia ini seolah hidup di abad ke-3 M. Dimana semua persoalan diatur atas nama otoritas keagamaan. Mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan atas nama moralitas yang kabur, itu tidak bisa kita benarkan sepenuhnya dalam kehidupan perguruan tinggi yang penuh dengan perdebatan epistimologis.
Kehidupan kampus bagi saya, sudah semestinya menjadi ruang yang jujur. Ruang bagi pikiran untuk berkelana bebas, dan sebagai ruang etalase dari kebangkitan gerakan mahasiswa. Tetapi entah bagaimana kampus hari ini juga sering kali menjadi tempat orang-orang mengubur identitasnya, bukan malah mengenal identitasnya yang lebih dalam sebagai manusia yang hidup dalam lingkaran akademik.
Di tengah kepalsuan itu, terkadang saya merasa sendiri dan tak ada artinya hidup dalam perguruan tinggi seperti yang saya bayangkan waktu di kampung. Kerena saban hari saya selalu di pertontonkan dengan orang-orang berjalan dengan raut wajah yang tidak mereka miliki.
Kemudian dari sinilah menjadi bagian dari mahasiswa bagi saya dapat memetik makna sekalipun hampa. Bahwa menjadi manusia bukan soal tampang suci, bukan pula seberapa patuh kita pada hukum yang diciptakan orang lain, tetapi soal tanggung jawab dan kebermanfaatan bagi sesama.
Hari ini, saya kembali mengenang pagi di ruang KAPRODI sembari duduk dan menatap truk pemuat sampah yang berceceran di pinggir jalan, saya memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang cepat atau lambat. Tapi, perjalanan ini tentang bagaimana saya menjadi menusia yang tidak banyak orang pikirkan selama menjadi mahasiswa.
Tulisan ini dibuat di antara ranting–ranting yang patah
Oleh: M. Anwarul Hidayat