Suka Terbungkus Duka di Hari Natal
Dilansir.id, Opini – Di balik gemerlapnya lampu natal, dan di antara persiapan menyambut sang Juru Selamat, tersembunyi luka terbalut duka yang sementara berlangsung. Desember datang menghadirkan suasana suka cita, sebagai tradisi yang selalu dirayakan kaum nasrani. Sebuah momen dimana rasa gembira itu datang, ketika kumpul bersama dalam perayaan yang semerbak.
Perayaan natal dalam suasana gembira, menghadirkan semua serba baru, setiap rumah dengan cat yang baru, dihiasi lampu natal aneka warna, disuguhkan makanan yang enak untuk disantap, makin menambah keceriaan serta tawa dan canda.
Diantara hiruk pikuknya keramaian perayaan natal, dengan menghadirkan hari yang amat istimewa untuk dirayakan, namun ada beberapa persitiwa yang hampir luput dari ulasan maupun diskusi pada meja yang penuh dengan jamuan makan.
Dari ujung Sumatera, pada bulan yang sama, di tengah perayaan hari natal, tragedi kemanusiaan yang menimpa saudara kita di Aceh, Sumatera Utara dan juga Sumatera Barat. Sebuah peristiwa yang memilukan, menyayat hati, sebagai akibat dari mereka yang terus mengejar nafsu dengan mengorbankan sesama manusia. Ribuan manusia menjadi korban dari serakahnya mereka yang tak pernah puas dengan apa yang telah mereka miliki.
Air hujan yang turun, menimbulkan air mata yang tidak henti, beberapa kampung hilang, pemukiman ludes entah kemana, banyak rumah, lahan ternak, sekolah, perkebunan, entah kemana semua itu, diakumulasi lagi dengan ribuan warga yang harus kehilangan nyawanya. Hidup seakan harus berakhir, harapan menjadi sirna, tak ada yang bisa diharapkan, hanya ratapan, beraduk sedih dan duka, menyesali yang harusnya tidak boleh terjadi, kehilangan masa depan.
Ada satu peristiwa yang hanpir sepi dari pemberitaan media, walau itu terjadi secara rutin. Pengungsian akibat konflik bersenjata di Papua yang melahirkan pengungsian di beberapa tempat. Peristiwa kemanusiaan yang memilukan dan melukai banyak perasaan.
Natal datang membawa suka cita, namun duka cita juga hadir dalam suasana tersendiri. Gemerlapnya lampu natal bercahaya, menghadirkan makanan yang enak penuh kehangatan, namun ada suasana gelap mencekam, penuh kedinginan yang menembus tulang serta getaran gigi.
Gelap gulita pertanda duka yang sembunyikan luka, dingin yang menembus pertanda mereka tak berbaju dan rumah untuk berteduh. Bulan Desember tidak hanya menghadirkan suka namun juga mendatangkan luka, peristiwa yang paradox.
Gemerlapnya lampu bercahaya penuh warna, namun terselip juga suasana yang gelap dan penuh ketakutan. Dibalut dengan makanan enak siap santap, namun ada mereka yang menantikan belas kasih dan uluran tangan untuk menyambung kehidupan.
Diantara alunan musik yang indah merdu dan syahdu, ada suara tangis dibalik reruntuhan dan dari dalam tenda-tenda mengharapkan pertolongan. Di dalam rumah yang penuh kehangatan natal, disaat yang sama ada mereka yang mengalami kedinginan karena kehilangan rumahnya, diantara mereka yang bertemu dan berkumpul bersama keluarganya, disaat yang sama ada mereka yang kehilangan keluarga hingga tercerai berai, akibat bencana alam dan konflik bersenjata yang terus berlangsung tiada berujung.
Penulis: Asra Bulla Junga Jara, S.I.Kom
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Sumba Tengah
_________________________
• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.