dilansir.id
October 31, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
dilansir.id
October 31, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
Opini

Merawat Takbir di Tengah Kesunyian Bali

Redaksi Dilansir.id
Redaksi Dilansir.id
March 12, 2026
0 Comments

Dilansir.id, Opini – Bali itu unik. Ia bukan sekadar barisan pantai dalam brosur wisata, melainkan sebuah ruang perjumpaan yang ajaib. Di pulau ini, perbedaan seringkali tidak berakhir sebagai sekat, melainkan menjadi ritme yang saling melengkapi. Namun, kali ini semesta sedang melontarkan sebuah teka-teki melalui kalender: Nyepi dan Idul Fitri jatuh berdekatan, nyaris berhimpit.

Nyepi datang dengan membawa mandat keheningan. Seluruh denyut pulau seolah berhenti. Tak ada api yang menyulut, tak ada roda yang berputar, bahkan suara pun diredam hingga ke titik nol. Ia adalah undangan bagi manusia untuk menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk dunia, agar bisa kembali mendengar detak jantungnya sendiri.

Di sisi lain, Idul Fitri adalah ledakan syukur. Setelah sebulan penuh bertarung dengan dahaga dan ego, umat Islam merayakan kemenangan. Malam takbir biasanya menjadi panggung bagi gema pengagungan Tuhan. Bedug berdentum, doa-doa dilantunkan dengan lantang sebagai tanda sukacita spiritual.

Bayangkan dua energi ini bertemu. Yang satu menuntut sunyi total, yang lain ingin meluapkan gembira. Di sinilah kedewasaan kita diuji: mampukah kita merayakan Tuhan tanpa harus meniadakan sesama?

Tentu saja, pertemuan dua momentum ini memicu riak. Di kedai-kedai kopi hingga ruang diskusi digital, perdebatan pun mekar. Ada kegelisahan yang jujur, namun ada juga kepedulian yang tulus.

Bagi kawan-kawan Hindu di Bali, Nyepi adalah marwah. Ia bukan sekadar ritual setahun sekali, melainkan identitas kultural yang telah mengakar selama berabad-abad. Menjaga kesunyian pulau adalah tanggung jawab kolektif siapa pun yang memijak tanah Bali. Sunyi adalah harga mati.

Namun, di sudut lain, ada pula nurani yang bertanya-tanya. Idul Fitri adalah perintah keyakinan. Menahan takbir bagi sebagian orang terasa seperti membelenggu ekspresi iman yang paling asasi. Di sinilah letak kerumitannya: bukan soal siapa yang lebih berkuasa, melainkan di mana kita menarik garis antara penghormatan pada adat dan kemerdekaan beragama.

Mari kita jujur pada diri sendiri. Bagi umat Islam, situasi ini sebenarnya adalah sebuah “tes ombak” bagi kualitas puasa kita. Bukankah selama Ramadan kita diajarkan untuk menahan diri? Para guru bijak sering mengingatkan bahwa puasa bukan hanya soal perut yang kosong, tapi soal nafs (hawa nafsu) yang dijinakkan.

Salah satu nafsu yang paling sulit dikendalikan adalah keinginan untuk selalu “terdengar” dan “terlihat” dominan. Kita sering merasa bahwa kebesaran Tuhan hanya sah jika diteriakkan lewat pengeras suara yang memecah langit.

Namun, bukankah Tuhan itu As-Sami’ (Maha Mendengar)? Apakah keagungan Allah akan luruh jika takbir hanya dilantunkan dalam bisikan syahdu di relung hati? Tentu tidak. Allah tidak butuh toa untuk mendengar rintihan syukur hamba-Nya.

Inilah ujian keikhlasan yang sublim: mampukah kita merayakan kemenangan tanpa harus menjadi demonstratif? Menjaga kesunyian Nyepi bagi umat Islam di Bali justru bisa menjadi bentuk ibadah yang lebih tinggi, sebuah sedekah ketenangan bagi tetangga kita.

Islam itu luwes, ia tidak kaku seperti semen yang mengering. Jika kesepakatan lokal mengizinkan takbir terbatas, syukurilah. Namun jika keadaan menuntut kita untuk benar-benar sunyi, maka takbir dalam batin bukanlah sebuah kekalahan. Ia adalah bentuk kepasrahan yang paling purba.

Di sinilah wajah Islam yang sesungguhnya—Rahmatan lil ‘alamin. Islam yang hadir untuk merajut kedamaian, bukan untuk merobek harmoni. Menghormati kesucian hari raya saudara kita yang Hindu adalah pengejawantahan dari akhlak yang mulia. Sebab, menjaga hubungan baik antarmanusia (hablum minannas) adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian kita pada Sang Pencipta.

Pada akhirnya, pertemuan Nyepi dan Idul Fitri di Bali adalah menjadi renungan kita bersama. Toleransi itu murah nan mudah jika semuanya saling memamahmi. Ia baru benar-benar bernilai ketika kita saling menghargai dan saling meyakini bahwa ada agama lain yang harus kita jaga ketenangannya.

Bali memberikan kita edukasi penting, beragama tidak diukur dari seberapa keras kita bertakbur atas nama Tuhan, melainkan dari sampai sejauh mana kita mampu menahan diri untuk menjaga keharmonisan.

Sebab pada akhir dari perenungan ini, yang paling bergema bukanlah suara yang paling keras di bumi ini, melainkan hati yang cukup legowo nan bijak untuk menghargai perbedaan tanpa merasa terancam. Mari kita rayakan takbir ini dengan takbir yang paling tulus untuk menyambut kemenangan kita.

Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag
(Ketua JASMINU Situbondo / Ketua DPD PAN Situbondo)
___________________________

• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.

 

Tags:

Tags:

BaliIdul FitriMerawat Takbir di Tengah Kesunyian BaliNyepiRahmatan lil ‘alamin

Share Article

Redaksi Dilansir.id
Follow Me Written By

Redaksi Dilansir.id

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
Redaksi Dilansir.id
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
Redaksi Dilansir.id
Kolaborasi MI Al Fattah Darussalam dan MINU Sumberpasir Malang, Perkuat Sinergi Pendidikan di Hari Santri 2026
Redaksi Dilansir.id
Lintas Gunung Kangayan, Sang Raja Bertahan Datang dengan Modal Juara Ganda
Redaksi Dilansir.id
IJPTI Resmi Berbadan Hukum, Matnadir Siapkan Audiensi dengan Pemangku Wilayah Malang Raya
Redaksi Dilansir.id
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Insan Budi Utomo Malang
Mahasiswa PBSI UIBU Malang Observasi Jejak Sejarah dan Budaya di Situs Petirtaan Ngawonggo
Redaksi Dilansir.id

Artikel Terkait

Oleh: Ach. Syaifur Rizal (Advokat/Konsultan Hukum)
Opini
Menagih Negara di Kepulauan Kangean: Antara Potensi Alam dan Anomali Pembangunan
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Oleh: Usman Adhim Hasan, S.H.I (Pemerhati & Pegiat Pendidikan)
Opini
Antara By Problem Dengan By Design System (Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren)
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag (Ketua JASMINU Situbondo)
Opini
Pasca-Muktamar Jombang, Saatnya IKSASS Merebut Posisi Strategis di NU
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Opini
Dari Paket ke Jam’iyah, Muktamar NU dan Ujian Kedewasaan Berorganisasi
Redaksi Dilansir.id
August 31, 2026
dilansir.id

Dilansir.id menghadirkan jurnalisme independen, beretika, dan terpercaya untuk publik melalui informasi faktual dan berimbang.

© 2025

Kontak Kami
Terbaru
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
October 28, 2026
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
October 25, 2026
Kontak Kami
  • Mojosantri Indah, Kav 20, Kajang Santren, Desa Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu
  • (+62) 85385292755
  • mediadilansir@gmail.com
Kanal Utama
  • Pedoman Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kerja Sama

Follow Us in Our Social Media

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran