18 Jam Menembus Ombak: Catatan Perjalanan Menuju Masalembu
Masalembu atau dulu disebut juga Nusalembu adalah sebuah pulau yang berada di ujung Utara pulau Madura. Perjalanan saya pada 09 Maret 2026 lalu membawa ingatan pada asal-usul namanya yang konon berasal dari mitos adanya seekor sapi (lembu) raksasa di pulau ini yang sering memangsa manusia. Riwayat yang lebih masuk akal mengatakan nama Masalembu diambil dari banyaknya sapi di pulau ini, ‘masa’ yang berarti banyak dan ‘lembu’ yang berarti sapi.
Perjalanan ke pulau ini dapat ditempuh dari pelabuhan Tanjung perak Surabaya atau pelabuhan Kalianget sumenep Madura. Perjalanan dari pelabuhan Tanjung perak ditempuh dengan menumpangi kapal Sabuk Nusantara 92, apabila dulu ada pula kapal Sabuk Nusantara 115, namun saat ini hanya tersisa kapal Sabuk Nusantara 92 saja.
Rute pelayaran kapal ini meliputi Tanjung Perak – Masalembu – Karamian – Masalembu – Sumenep – Masalembu – Karamian – Masalembu – Tanjung perak, begitu seterusnya. Selain membawa penumpang kapal ini juga mengangkut sembako dan bahan keperluan lainnya ke pulau Masalembu.
Perjalanan dari Tanjung perak ke Masalambu sendiri hampir sehari semalam lamanya, yakni sekitar 18 jam. Biasanya kapal akan berangkat dari pelabuhan Tanjung perak sekitar jam 4 sore, namun penumpang sudah harus siap di pelabuhan mulai pukul 10.00 WIB. Di hari berikutnya kapal sudah akan tiba di pelabuhan Masalembu.
Jadwal keberangkatan kapal seminggu sekali dengan pertimbangan cuaca dan gelombang. Menjadi suatu keharusan bagi para calon penumpang untuk memiliki jaringan informasi dari penjaga loket tiket maupun ABK kapal untuk memastikan keberangkatan kapal, karena terkadang sewaktu-waktu keberangkatan kapal dapat saja ditunda karena cuaca dan gelombang laut yang tidak mendukung.
Sementara itu, perjalanan dari pelabuhan Kalianget relatif lebih cepat yakni hanya sekitar 15 jam, kapal yang beroperasi pun sama dengan kapal yang melayani rute pelayaran dari Surabaya, yakni sama-sama kapal Sabuk Nusantara 92, hanya saja di Kalianget ada juga KM Bung Tomo yang turut melayani rute pelayaran ke pulau Masalembu, rute pelayaran kapal ini agak berbeda dengan kapal Sabuk Nusantara 92, yakni meliputi Kalianget – Masalembu – Kalimantan Selatan – Masalembu – Kalimantan Selatan – Masalembu – Kalianget.
Selain itu di Kalianget terdapat pula kapal kayu yang berlayar ke Masalembu, namun kapal-kapal kayu ini tidak sepenuhnya diperuntukkan untuk mengangkut penumpang, normalnya kapal-kapal ini hanya dipergunakan mengangkut sembako, bahan bangunan, ikan, kelapa dan hasil bumi lainnya, biasanya para warga Masalembu akan menggunakan kapal jeni ini saat terburu-buru menuju Masalembu sedangkan jadwal kapal belum ada.
Untuk harga tiket sendiri jika dari pelabuhan Tanjung Perak adalah empat puluh delapan ribu perorang dengan catatan memesannya langsung di pelabuhan, dan lima puluh lima ribu apabila membelinya dengan perantara calo, umumnya calon penumpang memesan tiket melalui perantara calo untuk mengantisipasi tidak kebagian tiket Jika memesannya langsung di pelabuhan, tiket yang dibeli melalui calo dipesan H-1 sebelum keberangkatan.
Diatas Kapal penumpang disiapkan tempat tidur bersusun dengan matras, para penumpang memilih tempatnya sendiri biasanya dengan berebutan. Jika beruntung dan cepat mengamankan kasur maka akan mendapatkan tempat yang nyaman dan ber-AC, yang demikian ada di dek 2. Namun jika lambat berebut tempat maka hanya akan kebagian kasur di dek pertama, dan ini sangat menyiksa, pasalnya di dek pertama AC kapal tidak berfungsi selain itu juga tidak terdapat ventilasi udara yang berfungsi sehingga selama perjalanan rasanya seperti berada dalam oven raksasa.
Perjalanan dari Tanjung Perak kita akan disuguhi oleh pemandangan kapal-kapal yang lego jangkar disekitaran pelabuhan. Sementara itu di sudut kejauhan nampak perusahaan-perusahaan dengan lampu berkelap-kelip. Memasuki waktu malam kapal sudah jauh meninggalkan pelabuhan Tanjung perak, pada waktu ini yang nampak hanyalah titik-titik sinar lampu sorot dari kapal-kapal lain di kejauhan. Dari atas kapal cahaya-cahaya ini nampak seperti sebuah kota.
Memasuki waktu subuh keadaan mulai berbeda, kapal akan mulai terguncang dan para penumpang akan mulai merasakan gelombang, ini menandakan kapal sudah memasuki perairan Masalembu. Laut Masalembu memang terkenal dengan keganasan gelombang lautnya, tak ayal perairan di pulau ini sampai – sampai dijuluki dengan segitiga bermudanya Indonesia lantaran banyak kapal yang karam di pulau ini dan yang paling fenomenal adalah tenggelamnya KMP Thampomas 2 pada Januari 1981.
Mendekati siang hari pulau Masalembu sudah tampak di kejauhan, diwaktu demikian kita akan melihat perahu-perahu nelayan yang melaju di kejauhan. Perahu-perahu ini sedang mengelilingi ‘rompong’ yakni rumah ikan yang sengaja dibuat dengan ikatan tumpukan daun kelapa dengan pelampung drum atau ikatan bambu dan pemberat berupa batu besar agar tidak terseret arus dan letaknya tidak bergeser. Pada ‘rompong’ inilah nelayan Masalembu menangkap ikan, satu perahu biasanya memiliki rompong sampai puluhan jumlahnya.
Sementara itu, di pelabuhan sudah berjubel banyak orang yang menunggu kedatangan kapal, baik untuk menjemput sanak keluarganya maupun bongkar muat di kapal. Pelabuhan Masalembu berupa dermaga dari beton yang menjorok ke laut dengan jalan yang terlihat tak terurus lantaran terdapat banyak lubang, pemotor akan meliuk-liuk untuk menghindari lubang pada jalan.
Panjang dermaga ini sekitar 1 km dari bibir pantai, diujung dermaga digunakan untuk kapal-kapal besar berlabuh, sementara disekitaran dermaga menuju daratan banyak ditambatkan kepal kayu pengangkut dan perahu-perahu nelayan. Perairan disekitar dermaga masih terlihat hijau dan bersih kecuali dibibir pantainya yang terlihat kotor dengan tumpukan sampah yang perlu perhatian lebih lanjut.
Oleh: Busariyanto