HMB UIN Malang Gelar Seminar Kedaerahan, Bahas Identitas Mbojo di Era Digital
Dilansir.id, Malang – Himpunan Mahasiswa Bima (HMB) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Seminar Kedaerahan bertema “Identitas Kultural di Era Digital: Merawat Gagasan Kedaerahan Mbojo Tanpa Kehilangan Arah di Kota Malang”. Kegiatan yang berlangsung di Kampung Mahasiswa. Selasa, (01/09/26).
Seminar menghadirkan Pimpinan Redaksi Ompunet Media Indo, Lalas Kurniawan, dan konten kreator La Yadi sebagai narasumber, dengan Imam Sufyan bertindak sebagai moderator. Kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta terkait budaya, media sosial, hingga peran generasi muda dalam pembangunan daerah.
Dalam pemaparannya, Lalas Kurniawan menilai media sosial saat ini masih didominasi konten hiburan. Padahal, menurut dia, generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan konten yang lebih edukatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau punya kemampuan, pengetahuan, atau karya yang baik, jangan takut dipublikasikan. Media sosial tidak hanya untuk mengikuti tren, tetapi bisa menjadi ruang berbagi gagasan dan pengetahuan yang memberi manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk mulai memproduksi konten sesuai bidang keilmuan yang mereka kuasai. Pengetahuan akademik, pengalaman organisasi, maupun isu-isu sosial di daerah dinilai dapat menjadi bahan konten yang bernilai dan berdampak positif.
Diskusi semakin berkembang ketika peserta mengangkat berbagai persoalan terkait identitas budaya Mbojo di tengah kehidupan perantauan. Salah satu peserta, Sri Ramadhani, menyoroti bagaimana media sosial kini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan kritik dan keresahan terhadap berbagai persoalan daerah.
Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan pentingnya memastikan setiap isu yang diangkat memiliki tujuan yang jelas dan mampu mendorong perubahan positif. Menurutnya, kritik yang disampaikan melalui media digital harus disertai gagasan dan solusi agar memberikan manfaat bagi pembangunan daerah.
Sementara itu, peserta lain, Tri Haryati, mengangkat persoalan identitas mahasiswa Bima di perantauan yang kerap berada di antara dua kutub, yakni terlalu eksklusif dengan kelompok sendiri atau justru menyembunyikan identitas karena khawatir terhadap stigma.
Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber menegaskan bahwa identitas budaya seharusnya menjadi sumber kepercayaan diri, bukan alasan untuk membatasi pergaulan. Mahasiswa Bima didorong untuk tetap bangga menggunakan bahasa dan budaya Mbojo sembari terbuka terhadap keberagaman di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Pertanyaan lain disampaikan Ferdianto yang menyoroti strategi paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya Bima kepada generasi muda. Menurut narasumber, penguatan identitas kedaerahan tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga lewat keluarga, komunitas, organisasi mahasiswa, hingga pemanfaatan platform digital.
“Media sosial bisa menjadi sarana paling efektif untuk memperkenalkan kembali bahasa, sejarah, tradisi, dan nilai-nilai Mbojo kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dan relevan,” kata La Yadi.
Ketua HMB UIN Malang menyampaikan bahwa seminar tersebut tidak sekadar membahas budaya, tetapi juga mendorong mahasiswa Bima untuk menjadi produsen gagasan di ruang digital. Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan identitas daerah sekaligus menyampaikan ide, kritik, dan solusi bagi kemajuan Bima.
Melalui seminar ini, HMB UIN Malang menegaskan bahwa identitas kultural dan perkembangan digital bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika generasi muda mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk merawat, mengenalkan, dan mengembangkan nilai-nilai budaya daerah di tengah perubahan zaman. (MAH)