Gelar Milad ke-7: Kohati Komisariat Unitri Pertegas Perjuangan Perempuan di Kampus
Dilansir.id, Malang – Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Malang Komisariat Unitri menggelar perayaan hari jadi yang Ke-VII dengan tema “Apakah Kohati masih relate : Dipertahankan atau dibubarkan?. Kegiatan ini berlangsung di Cafe Wong Deso Omah Cangkruk pada Rabu, (24/12/2025)
Agenda tersebut juga dihadiri oleh Chusnul Chotimah, S.Pd., M.Pd (Ex Ketum Kohati Cirebon, Ketum Badko HMI Jawa Barat, Wasekum Kohati PB, Wabendum PB HMI), dan Mirdan Idham (Ketua Umum HMI Cabang Malang) sebagai Narasumber, serta anggota HMI, Alumni dan tamu undangan.
Dalam pemaparannya, Chusnul Chotimah menekankan pentingnya anggota Kohati untuk terus bersuara dan membela sesuatu yang bersinggungan langsung dengan kaum perempuan di lingkup terkecil yaitu kampus. Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan perempuan dalam pemerintahan.
“Jangan habiskan energi kalian untuk hal-hal yang bukan urusan kalian, fokus pada diri sendiri, aktif di kampus, sebelum kalian selesai di sana (kampus) jangan beranjak ke hal lainnya, karena itu bukan urusan kalian” pungkasnya
Ia juga menambahkan, bahwa kaum perempuanlah yang mengerti secara langsung apa yang dirasakan oleh mereka.
“Siapa yang mengerti keinginan kita, siapa yang merasakan haid, siapa yang merasakan sakitanya melahirkan, perempuan kan?, kita harus menjadi pemimpin di lingkungan pemerintah, karena kita yang mengerti secara langsung apa yang dirasakan perempuan”, ungkap Chusnul.
Di sisi lain, Mirdan Idham memandang bahwa peran Kohati secara struktural perlu diluruskan agar bisa berakselerasi lebih luas dan bebas menunjukkan kreativitasnya.
“Selama Kohati masih berbentuk ex officio maka ia tidak akan pernah bebas sepenuhnya, status konstitusional Kohati bermasalah, agar Kohati bisa berakselerasi dengan cepat maka status itu perlu ditinjau ulang”, tegasnya.
Selain itu, Ketua Umum Kohati Komisariat Unitri menyampaikan tujuan dan refleksi historisnya atas kegiatan yang diselenggarakan.
“Tujuh tahun merupakan perjalanan yang panjang, tentu menyimpan berbagai macam dinamika, baik dari segi pencapaian, kegagalan, konflik, hingga proses pendewasaan. Milad kali ini kami juga ingin memperkuat ikatan kolektif dan kesadaran historis kader bahwa Kohati tidak dibangun dalam satu malam, melainkan melalui kerja-kerja yang sunyi, penuh pengorbanan, dan komitmen kader dari generasi ke generasi” ungkap Nurul
“Milad ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan organisasi bergantung pada kesadaran bersama untuk menjaga nilai, merawat solidaritas, dan menyiapkan estafet kepemimpinan yang berintegritas”, tambahnya.
Ia juga menuturkan harapannya untuk menjadikan Kohati sebagai tempat kader perempuan belajar untuk berkembang, kritis dan tidak lupa realitas kampus serta masyarakat sekitar.
“Harapan saya untuk pengurus hari ini dan Kohati Komisariat Unitri ke depan, jangan pernah kehilangan rasa memiliki, belajar dan rawat bareng-bareng, dengan segala kurang dan lebihnya, jadikan Kohati tempat perempuan bisa bertanya, bersuara, dan berkembang tanpa merasa dihakimi. Tetap kritis, tapi juga membumi, tetap idealis, tapi tidak lupa realitas sekitar kampus dan masyarakat” harapnya
“Semoga estafet ini terus berjalan dengan kesadaran, siapapun yang melanjutkan, rawat nilai, jaga solidaritas, dan jangan lelah memperjuangkan Kohati sebagai ruang perjuangan perempuan yang beretika, berani, dan berpihak pada kemanusiaan”, tutup Nurul. (Ags/Rjb)