Perihal Rasa dan Waktu
Dilansir.Id – Haii, apa kabar?
Apakah kau tau?
Dititik ini saya bingung, bingung mencari sebuah pertanyaan yang pas ketika bertemu dengan mu kembali.
Apakah kau dapat memilih dari pertanyaan pertanyaan yang sudah saya siapkan ini? “bagaimana kabarmu” atau “apa kabar?” “sudah berapa lama kita tidak berjumpa? ”
apakah pertanyaan ku sudah cukup pas untuk mewakili semua kerinduan ini?
tetapi dititik ini saya masih takut untuk bertemu dengan mu, saya takut tidak bisa mengejar langkahmu lagi, saya takut sendirian, saya takut ditinggalkan, saya masih takut akan semua hal itu.
kalau kau ingin bertanya tentang kabarku, saya akan menjawab bahwa saya masih tetap sama seperti saat kau pergi. Apakah kau tak ingin berada di sisiku lagi? walaupun hanya untuk sesaat?
Saya tau, semua hal yang telah kita lewati tidak akan pernah bisa kita ulangi kembali.
Saya tau, kita juga tidak akan bisa menjadi kita yang dahulu.
Saya tau, resolusi ku tahun ini kemungkinan hancur.
Tetapi, sampai detik ini saya tidak pernah menyesal mengenalmu
saya tidak pernah menyesal pernah berlari bersamamu
saya hanya menyesal, kenapa kita dipertemukan dengan waktu sesingkat ini.
Kau luka bagi ku, tapi kau juga obat bagiku
kau tahu, setiap saya menjauh darimu dengan sejuta alasan untuk menyembuhkan lukaku, justru lukaku lebih besar dan berdarah darah.
Saya benci kenapa harus kamu yang menjadi lukaku
saya benci kenapa harus kamu juga penyembuh dan obat dari segala lukaku
sampai saat ini, saya bertanya-tanya dalam fikiranku.
Kenapa saya bisa sekecanduan ini kepadamu selayaknya saya tidak pernah berlari dari titik ini?
kau selalu menyuruh ku untuk selalu percaya dengan tuhan
kau selalu menyuruh ku untuk selalu berkeluh kesah kepada tuhan
dan kau selalu menyuruh ku untuk melibatkan tuhan dalam segala hal perjalanan ku.
Sekarang saya telah melakukannya tanpa kau yang selalu menjadi pengingat hal itu
di titik ini juga, saya pasrah akan ketentuan tuhan
saya pasrah, akan semua hal dalam hidup ku pada tuhan
tapi sampai kapan saya, berdiam diri di titik ini?
aku ingin berlari tanpa ada bayangan mu, bayangan yang seolah olah mengejek diriku untuk tidak bisa berdiri sendiri.
Aku ingin berlari, demi masa depan yang sudah menantiku
lantas, sekarang saya harus bagaimana tuan? berlari dengan luka yang masih berdarah-darah, atau berdiam diri dulu dengan menikmati segala lukaku?
tuan, kau terlalu menempatkan ku pada titik dimana aku tidak bisa memilihnya.
Malang 8 Oktober 2023, wib 1.35
Oleh : Desita Sholikhatus Shofa