Kata Hati Atau Persepsi Semata
Dilansir.Id – Hi. How are you?
Asalkan tuan tahu, kali ini aku memilih melepaskan
Bukan karena tidak mencintaimu
Aku menyayangi sungguh
Sengaja kutulis singkat agar tuan mudah memahaminya
Dan aku merindukanmu
Serta ketololan-ketelolanku saat bersamamu
Yang dulunya sempat membuatku bertahan.
Jadi, kau mengerti maksudku, kan? Kumohon, berbahagialah agar hancur ini tak harus sia-sia And Semoga segala rencana yang dulu pernah kita panjatkan, tetap bisa terwujud, meski itu harus kau wujudkan dengan manusia selain aku karena sejatinya bagiku, bahagiamu adalah segalanya
Tapi sayang, kita pernah begitu yakin, bahwa setiap awal layak diperjuangkan. Namun pada kenyataanya, tidak semua yang dimulai pantas untuk dijalani hingga akhir. Terkadang ada lelah yang tidak lagi bisa dijelaskan, bukan karena kurang sabar, melainkan karena terlalu sering berjalan tanpa tahu ke mana arah sebenarnya.
Kita bukan lagi anak-anak yang bisa bermain dalam ketidakpastian. Kini di usia yang menuntut kejelasan, terlalu naif apabila terus membiarkan diri terjebak dalam hubungan yang hanya mampu menawarkan keraguan.
Dan ketika akan memilih pergi bukan karena ingin, memilih bertahan pun bukan karena tak mampu. Kita hanya sedang dihadapkan pada pilihan yang keduanya sama-sama menyakitkan, namun yang tidak dapat kita pungkiri bahwa ketika diam terlalu lama di tempat yang salah juga adalah bentuk luka yang perlahan akan menjauhkan diri dari kebahagiaan.
Bukan kah begitu sayang? Satu hal yang aku sadari di tahun baru ini, ternyata kepergianmu bukan sekedar langkah yang menjauh, melainkan gemuruh yang merobek tenang hidupku. Saat itu jiwaku seperti kapal renta kehilangan nahkoda, dihantam gelombang dari segala arah.
Cinta yang kupeluk begitu erat ternyata tak sanggup menahan keputusan langit. Pernah kurawat harap dengan seluruh rapuhku – bahwa ketulusan bisa membelokkan takdir barang setitik. Namun takdir, seperti samudra yang tak mengindahkan jerit pelaut kecil, tetap berjalan pada garisnya yang dingin.
Pergimu berhasil menjadikanku manusia yang meraba dinding dadanya sendiri, memastikan hatinya masih berdenyut meski retaknya tak dapat lagi disamarkan.
Kini namamu, kutaruh jauh, bukan untuk dibuang, hanya agar aku tak mendekapnya terlalu keras hingga meluka lagi. Semoga hidupmu dijaga tangan-tangan yang dipilih langit, meski bukan tanganku.
Dari kehilanganmu, aku mengerti manusia bisa patah, namun tetap melangkah. Ada air mata yang tak jatuh ke pipi, tetapi menetap di hati. Ada cinta yang tak mati hanya berubah menjadi sunyi yang patut dihormati.
Di situlah aku belajar berdiri kembali. Bukan karena kuat, tetapi karena sadar hidup selalu memaksa kita berlayar, walau kapal pernah hampir tenggelam, meski ombak masih menyebut namamu dalam diam.
Tapi aku berdoa pada semesta, sampai bertemu lagi di temu yang semoga tidak pernah tiba. Kuharap setelah ini langkah kita tidak pernah berpapasan lagi di bagian bumi dan kebetulan manapun.
Aku takut jika mataku kembali menemukan matamu, segala jarak yang susah payah kubangun akan runtuh hanya oleh satu senyum
Aku takut kenangan akan mendera, menyeret hatiku kembali pada cinta yang dulu begitu kupercaya. Aku tidak ingin jatuh untuk kesekian kalinya, pada orang yang sama, lalu patah di tempat yang sama pula
Sayang, aku ingin dipilih tanpa jeda, bukan disimpan di sela-sela ragu, ingin diperjuangkan tanpa syarat, bukan dititipkan pada waktu, waktu yang bahkan tak pernah kau niatkan. Seperti buku, aku juga ingin kau baca hingga tuntas.
Sebab sungguh, aku datang membawa hati yang utuh. Namun, mengapa kau selalu menakar? Seakan cinta yang layak kudapat adalah dengan ujian berulang yang tak akan usai.
Kau membuatku bertanya, kenapa aku diperlakukan layaknya resiko yang boleh dicinta, namun jangan terlalu dalam. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa, bukan aku yang kurang layak hanya saja aku terlalu utuh, untuk seseorang yang mencintai dengan setengah hati sepertimu.
Kediri, 14 Januari 2026, 11.43 WIB
Oleh : Desita Sholikhatus Shofa