Harga Energi Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah, Ekonom Peringatkan Risiko Stagflasi
Dilansir.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah pascaserangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memunculkan kekhawatiran baru bagi perekonomian dunia. Sejumlah ekonom menilai konflik tersebut berpotensi memicu stagflasi global, yakni kondisi ekonomi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah. Hal tersebut disampaikan oleh Ruben Nizard, pada Selasa (03/03/2026).
Kekhawatiran tersebut muncul seiring melonjaknya harga energi serta terganggunya jalur perdagangan internasional. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Jika jalur tersebut terganggu, pasar energi global berpotensi mengalami lonjakan harga yang signifikan, mengingat peran vital kawasan tersebut dalam distribusi minyak dan gas dunia. Kondisi ini dinilai memiliki kemiripan dengan krisis energi pada dekade 1970-an yang menyebabkan lonjakan biaya energi dan memicu kenaikan harga berbagai komoditas lainnya.
Kepala Penelitian Risiko Politik di Coface, Ruben Nizard, menyebut kondisi tersebut berpotensi membawa ekonomi dunia pada situasi stagflasi.
“Skenario di mana biaya energi meningkat tajam sementara pertumbuhan ekonomi global tetap lemah berpotensi menjadi realitas stagflasi,” ujar Kepala Penelitian Risiko Politik di Coface, Ruben Nizard, perusahaan asuransi kredit perdagangan, seperti dikutip AFP pada Selasa (03/03/2026).
“Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat menimbulkan masalah lain dengan menaikkan biaya pengiriman maritim dan mendorong inflasi lebih jauh,” tambahnya.
Pandangan serupa juga disampaikan ekonom Sylvain Bersinger. Ia menilai konflik di Timur Tengah dapat memicu guncangan energi besar yang mendorong harga minyak menembus US$110 per barel apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
Meski angka tersebut bukan rekor tertinggi dalam sejarah pasar energi, Bersinger menilai dampaknya terhadap inflasi global akan cukup signifikan karena harga energi sangat memengaruhi biaya produksi dan konsumsi.
Saat ini, harga minyak berjangka internasional telah menunjukkan kenaikan yang cukup tajam. Kontrak minyak Brent sempat berada di kisaran US$79 hingga US$80 per barel, atau sekitar Rp1,33 juta hingga Rp1,35 juta, meningkat signifikan dibandingkan awal tahun yang berada di level US$61 per barel.
Tekanan inflasi juga diperparah oleh kenaikan harga gas global. Harga gas acuan di Eropa tercatat melonjak lebih dari 40 persen setelah serangan terhadap fasilitas energi di Qatar memaksa penghentian produksi gas. Kondisi tersebut memperkuat tekanan terhadap harga energi di pasar global.
Selain sektor energi, konflik di kawasan Timur Tengah juga berpotensi mengganggu perdagangan internasional. Ekonom dari ING menyebut situasi ini dapat menjadi guncangan serius terhadap perdagangan global, terutama di tengah kondisi rantai pasok yang masih rapuh.
Gangguan logistik, termasuk penutupan wilayah udara di kawasan Teluk, dinilai dapat memperlambat aktivitas ekonomi global serta memperbesar ketidakpastian pasar.
Dampak konflik juga mulai terasa di pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara utama meningkat, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Sementara itu, mata uang negara berkembang, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, juga mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Para ekonom menilai jika konflik terus berlanjut, kombinasi antara kenaikan biaya energi, gangguan logistik, serta menurunnya kepercayaan bisnis dapat menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam skenario terburuk, kondisi tersebut berpotensi mendorong dunia menuju kombinasi resesi ringan dengan inflasi tinggi, yang menjadi ciri utama stagflasi di tengah krisis energi global. (Rjb/Red)