Eksplorasi Ekspor Palm Kernel Expeller (PKE): Mahasiswa Unitri Sambangi Perusahaan Sawit Skala Global PT Wilmar Cahaya Indonesia TBK di Pontianak
Dilansir.id, Pontianak – Arif Rahman, mahasiswa Manajemen Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri) Malang, melakukan penelitian tugas akhir mengenai proses Ekspor Produk Palm Karnel Expeller (PKE) pada di PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk-Pontianak, yang berlokasi di Wilayah Jl. Khatulistiwa Km 4,3 Batu Layang Kota Pontianak Utara, Kalimantan Barat, Rabu (22/04/2026).
Penelitian ini fokus pada proses ekspor Palm Kernel Expeller (PKE) atau bungkil inti kelapa sawit sebagai bagian dari studi manajemen operasional yang sedang ia keluti.
Langkah ini diambil untuk membedah praktik manajemen di perusahaan skala global. Melakukan penelitian di luar Jawa Timur menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi mahasiswa Unitri dalam mengembangkan keilmuan secara praktis.
“Ini sebuah kompas bagi Universitas saya serta industri untuk selalu bekerja sama memberi ruang kebutuhan bagi anak-anak bangsa dalam pengembangan bidang keilmuan yang sedang di emban, serta mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi yang menghubungkan teori akademik dengan kebutuhan praktis,” ungkap Arif.
PT Wilmar Cahaya Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang di Pontianak sejak 3 Februari 1968 dengan nama CV Thaja dan beroprasi secara komersial pada tahun 1971. Perubahan status perseroan berdasarkan SK Menteri Kehakiman RI pada 17 Mei 1988.
Tahun 1995 perusahaan juga melantai di bursa efek Indonesia. Tahun 2008 mengambil alih saham mayoritas cahaya kalbar yang mengubah fokusnya di bawah naungan Wilmar Internasional atau yang dikenal oleh masyarakat pontianak dengan nama Vitamo.
Ini adalah masa emas dimana secara resmi 2014 ditetapkan sebagai Wilmar Cahaya tbk-Pontianak yang hari ini kita kenal dengan perusahaan pengolah minyak goreng beserta produk turunan lainnya.
Berdasarkan informasi dari Departemen Operasional, ekspor PKE rutin dikirim ke Thailand dan Vietnam dengan volume mencapai 1.800 hingga 2.300 ton per pengiriman. Selain pasar ekspor, perusahaan ini menyerap sekitar 350 tenaga kerja, di mana 80% di antaranya merupakan warga lokal, yang berdampak positif pada pengurangan pengangguran dan devisa negara.
“Teori adalah bahan mentah dan pengalaman adalah pengolahannya, ia menekankan pentingnya sinergi kampus dan industri untuk mengubah teori menjadi praktik nyata. Baginya, ini bukan sekadar pragmatisme, melainkan upaya membekali generasi muda agar mampu menciptakan lapangan kerja atau menjadi tenaga ahli yang bermanfaat bagi masyarakat serta mempunyai potensi untuk bersaing dengan industri global” pungkas Arif.
kolaborasi antara kampus dan industri itu sangat penting untuk menguji teori akademik dalam dunia kerja nyata. Pengalaman praktis di industri akan membekali generasi muda menjadi tenaga ahli yang siap berkontribusi menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat luas. (FA)