Mahasiswa PBSI UIBU Malang Observasi Jejak Sejarah dan Budaya di Situs Petirtaan Ngawonggo
MALANG – Mahasiswa semester VII angkatan 2023 kelas A Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sosial dan Humaniora, Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang, melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) melalui kegiatan observasi jejak sejarah, budaya, tradisi, dan kearifan lokal di Situs Petirtaan Ngawonggo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penugasan mata kuliah Sastra Pariwisata. Sebelum menuju lokasi, mahasiswa mendapat arahan dari dosen pengampu mengenai kegiatan observasi yang akan dilakukan.
Setibanya di lokasi, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai keunikan dan aturan yang berkaitan dengan nilai budaya serta kesakralan Situs Petirtaan Ngawonggo. Salah satunya adalah ketentuan mengenakan pakaian adat Jawa ketika memasuki area tertentu di situs tersebut.
Sebelum memasuki kawasan yang dianggap sakral, mahasiswa juga mendapat arahan dari pemandu situs. Pengunjung diimbau untuk tidak menggunakan alas kaki, tidak bercanda secara berlebihan, serta tidak mengambil atau menyentuh sejumlah benda yang dianggap memiliki nilai sakral.
Berbagai aturan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan yang terus dijaga oleh masyarakat setempat. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, lokasi tersebut juga dikaitkan dengan tokoh sejarah Ken Arok sebelum menjadi raja.

Salah satu bagian yang dianggap sakral adalah sumber air jernih yang hingga kini digunakan dalam kegiatan tertentu, termasuk pada peringatan malam Suro.
Selain mempelajari sejarah dan budaya, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman mengenal tradisi kuliner masyarakat setempat. Mereka dijamu dengan jamu herbal yang dibuat dari berbagai rempah serta jajanan tradisional seperti apem, pisang goreng, dan makanan ringan khas lainnya.
Pada pukul 12.00 WIB, mahasiswa dipersilakan menikmati hidangan berbahan protein nabati yang disajikan di kawasan Petirtaan Ngawonggo.
Salah seorang mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut, Yeni Ratna Sari, mengatakan kunjungan ke Ngawonggo memberikan pengalaman untuk melihat secara langsung budaya yang masih dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
“Apabila ingin mempelajari budaya yang tidak akan tergeser oleh perkembangan zaman, datanglah ke Ngawonggo. Budaya yang dijaga sehingga tidak tersentuh oleh modernisasi zaman, khususnya budaya kebaratan,” ujar Yeni.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Sastra Pariwisata, Dr. Susandi, M.Pd., mengatakan pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas. Menurutnya, kunjungan akademik ke Petirtaan Ngawonggo menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari sejarah, budaya, tradisi, dan kearifan lokal secara langsung.
“Pembelajaran Mata Kuliah Sastra Pariwisata tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kunjungan akademik ke Petirtaan Ngawonggo, Malang, menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari jejak sejarah, budaya, tradisi, dan kearifan lokal,” kata Susandi.
Ia menambahkan, destinasi wisata tidak hanya menjadi tempat untuk dikunjungi, tetapi juga menyimpan cerita, identitas, memori, dan nilai budaya yang dapat dipelajari serta dinarasikan melalui perspektif sastra.
Melalui observasi lapangan, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan dalam mengamati, menginterpretasi, mendokumentasikan, dan mengonstruksi narasi wisata berbasis budaya lokal.
“Karena sastra tidak hanya dibaca di dalam buku. Sastra juga dapat ditemukan dalam ruang, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (ags/red)