Resensi Buku: Mengeksplorasi dan Mengidentifikasi serta Menilai Teori Belajar dan Pembelajaran dari Mufti Nawang Prastiko
Dilansir.id, Resensi – Bab I merefleksikan bahwa landasan fundamental dalam pembentukan kerangka konseptual kuat yang menekankan pada perbedaan serta hubungan belajar yang mempunyai definisi sebagai aktivitas sadar yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, sedangkan pembelajaran sebagai sebuah proses interaksi terencana antara peserta didik, pendidik, dan sumber belajar. Kejelasan konseptual tersebut juga diperkuat melalui tujuan, prinsip, dan komponen pembelajaran. Pembahasan komponen tujuan, media, dan pengorganisasi kelas sekaligus pelibatan evaluasi remedial, dan pengayaan memberikan pernyataan bahwa pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Penempatan belajar dan pembelajaran dengan pertimbangan budaya, sistem nilai, dan interaksi sosial merefleksikan relevansinya dengan pembelajaran inklusif, kontekstual, dan pengembangan peserta didik secara komprehensif. Bab I direkomendasikan sebagai landasan yang membentuk dan mengembangkan kerangka berpikir bagi pendidik dan tenaga kependidikan di bidang pendidikan.
Bab II mempunyai fungsi sebagai pemetaan yang memperjelas teori belajar dan pembelajaran dengan baik. Bab ini melibatkan teori behavioristik, kognitif, Gestalt, humanistik, konstruktivistik, kognitif sosial, model instruksi Gagne, taksonomi Bloom, konektivisme, dan pembelajaran dalam jaringan (daring) dalam satu bab yang dijelaskan secara kronologis yang memberikan pembaca kesempatan untuk memahami kesamaan dan perbedaan dari setiap teori yang ada. Susunan secara kronologis memberikan kemudahan bagi pembaca untuk memahami bahwa setiap teori terbentuk atau tercipta melalui perbedaan sudut pandang yang disertai karakteristik manusia dan kondisi geografis setiap negara yang mempunyai keunikan berbeda satu sama lain yang memengaruhi landasan hakikat belajar melalui perilaku yang teramati, pemrosesan informasi, pemahaman pola yang komprehensif, pengalaman personal atas sesuatu, pembentukan dan pengembangan makna serta komunikasi yang membentuk dan mengembangkan interaksi sosial dan budaya.
Bab ini mempunyai kekuatan yang mampu untuk menjelaskan relevansi atau keterkaitan antara teori dan praktik. Teori behavioristik terbentuk melalui perilaku tangible yang merupakan perwujudan dari pemikiran individu serta keterkaitannya dengan stimulus – respon, teori kognitif menjelaskan bahwa belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses pemikiran untuk menerima, mengelola, menyimpan, dan mengimplementasikan informasi dalam ruang lingkup tertentu, teori Gestalt mempunyai sudut pandang bahwa belajar dilaksanakan sebagai sebuah proses yang komprehensif atau tidak terpecah, teori konstruktivistik melihat seseorang individu sebagai seseorang yang sedang membangun dan mengembangkan pengetahuannya melalui pengalaman dan komunikasi sekaligus interaksi yang terjadi di kehidupannya, teori intelektual atau kognitif sosial memperjelas pemahaman tersebut dengan mengaitkan keterlibatan komponen faktor pribadi, perilaku, dan lingkungan yang membentuknya, sembilan tahapan dalam teori Gagne memberikan pemahaman yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun kerangka yang dibutuhkan untuk melaksanakan belajar dan pembelajaran, sedangkan Taksonomi Bloom yang melibatkan beragam dimensi pengetahuan dapat membantu perumusan tujuan belajar dari tingkat rendah menuju tinggi yang semakin kompleks. Sementara itu, connectivism learning memberikan landasan dasar yang dapat memperluas pembentukan dan pemahaman belajar melalui kemampuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi serta memahami relevansi keterkaitannya dari beragam materi belajar. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dalam jaringan menjelaskan bahwa proses belajar dan pembelajaran tidak harus terikat dengan ruang fisik yang dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi dan keterpisahan pendidik dan peserta didik. Relevansi yang dimiliki setiap teori merefleksikan bahwa teori yang terdapat pada bab ini tidak berjalan secara terpisah, akan tetapi teori yang ada dapat digunakan untuk saling melengkapi sekaligus untuk membentuk dan memahami dasar dalam pelaksanaan proses belajar melalui perancangan pembelajaran dengan tujuan akhir untuk meraih tujuan yang ingin diraih. Dengan demikian, keberadaan bab II dapat digunakan sebagai pernyataan yang menjelaskan bahwa tidak ada satu teori belajar yang unggul secara absolut untuk diterapkan dalam beragam kondisi, melainkan pemilihan teori untuk menunjang proses pelaksanaan belajar dan pembelajaran harus dilaksanakan pada analisis yang melibatkan elemen seperti tujuan pembelajaran yang ingin diraih, karakteristik materi dalam mata pelajaran, karakteristik peserta didik yang unik, bentuk pelaksanaan aktivitas belajar, dan model asesmen yang disesuaikan untuk mengakomodasi keunikan setiap karakteristik agar proses belajar dan pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Bab III menjelaskan bahwa model pembelajaran mempunyai kerangka yang mempunyai peran untuk membentuk dan mengembangkan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan karakteristik unik belajar peserta didik. Penempatan model Kolb, VARK, Gregorc, Felder-Silverman, Dunn dan Dunn, dominasi otak Herrmann, serta 4MAT dalam satu kerangka yang beruntun atau kronologis yang memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai keanekaragaman preferensi belajar. Kolb menjelaskan bahwa suatu siklus belajar dimulai dari tahap pengalaman nyata yang melibatkan eksperimen aktif, sedangkan model Felder – Silverman dan pendekatan model Dunn dan Dunn yang mempunyai 21 komponen mempunyai landasan dasar yang menjelaskan bahwa karakteristik gaya mengajar pendidik yang mempunyai kesesuaian dengan gaya belajar peserta didik memberikan pengaruh dalam ketercapaian keberhasilan belajar.
Praktik dan teori terutama pada model pembelajaran aktif yang dijelaskan secara konsisten pada bab ini. Pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran berbasis masalah serta pembelajaran penemuan atau discovery learning menekankan bahwa proses belajar dilaksanakan melalui masalah nyata yang melibatkan data, dan informasi yang memberikan dorongan kepada peserta didik untuk membentuk dan mengembangkan sebuah ide yang berisi solusi untuk menyelesaikannya. Guru mempunyai peran sebagai fasilitator yang memandu jalannya proses belajar yang dilaksanakan dengan beragam metode seperti kolaborasi sesama peserta didik dalam bentuk kelompok kecil, belajar mandiri, dan pembentukan dan pengembangan kemampuan untuk berpikir kritis serta motivasi intrinsik merupakan bagian operasional dalam melaksanakan proses belajar bagi pendidik.
Bab IV menjelaskan bagaimana pendekatan, strategi, dan teknik pembelajaran mempunyai kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Melalui pernyataan yang menjelaskan bahwa pendekatan, strategi, dan teknik mempunyai definisi yang berbeda satu sama lain. Penyajian beragam materi secara kronologis membantu pendidik untuk memahami bahwa perspektif terhadap proses belajar, dan rencana yang disusun, dan langkah yang diambil mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran peserta didik.
Bab ini mempunyai peran kuat dalam membentuk dan mengembangkan pemahaman guru yang membahas mengenai fungsi dan tujuan strategi, metode, dan teknik pembelajaran untuk dijadikan sebuah panduan dalam merancang dan mengimplementasikan serta mengevaluasi pembelajaran yang dilandaskan pada karakteristik unik peserta didik, materi, sumber daya, dan lingkungan sekolah. Penentuan kelompok yang melibatkan strategi dan ragam teknik pembelajaran memberikan pengaruh yang membentuk nilai praktis dari bab ini yang dapat digunakan sebagai referensi untuk merancang dan membentuk pembelajaran yang beragam dan kontekstual untuk pendidik.
Bab V menjelaskan bahwa motivasi belajar mempunyai peran sebagai unsur pusat yang mendorong proses pembelajaran peserta didik. Motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai dorongan terhadap usaha belajar peserta didik dalam belajar untuk memulai, mengarahkan, dan mempertahankan serta meningkatkan hasil belajar. Melalui penjelasan tersebut, ketercapaian prestasi, dan retensi belajar peserta didik bergantung pada motivasi belajar yang dimilikinya. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik juga ada di dalam buku dalam bentuk proporsional yang menjelaskan bahwa kedua motivasi tersebut tidak dapat disederhanakan karena mempunyai peran yang sama, akan tetapi mempunyai ruang lingkup yang berbeda.
Bab ini juga menjelaskan bahwa rendahnya prestasi belajar tidak hanya berasal dari peserta didik, akan tetapi juga mempunyai relevansi dengan lingkungan eksternal seperti pertimbangan karakteristik dalam proses belajar dan pembelajaran, hubungan pendidik dan peserta didik, dan tuntutan yang ada di lingkungan pendidikan. Sudut pandang tersebut menjelaskan bahwa dorongan dari luar tidak cukup untuk meningkatkan motivasi, akan tetapi membutuhkan dukungan melalui pembentukan dan pengembangan pembelajaran yang memberikan otonomi untuk peserta didik dalam mengeksplorasi dan mengidentifikasi pengetahuan yang dibutuhkannya sesuai karakteristiknya.
Bab VI menjelaskan bahwa kinerja profesional guru dilihat melalui ketersediaan dan kualitas rencana pembelajaran yang mempunyai peran sebagai indikator penilaian. Perencanaan dapat dijelaskan sebagai sebuah kerangka yang dibentuk melalui tahap yang terdiri dari beragam komponen seperti; (1) tujuan; (2) materi; (3) metode; (4) aktivitas; (5) sumber belajar; dan (6) penilaian agar proses belajar dan pembelajaran terlaksana dengan arah atau tujuan yang jelas sesuai kurikulum. Dilihat dari sudut fungsi dan komponen, rencana pembelajaran mempunyai peran sebagai pedoman untuk pendidik membentuk dan mengembangkan serta mengelola proses belajar dan pembelajaran. Relevansi yang dimiliki setiap komponen merefleksikan bahwa perencanaan tidak hanya mempunyai peran sebagai unsur administratif kolektif, akan tetapi juga sebagai sebuah sistem komprehensif yang berperan dalam membentuk pengalaman belajar yang holistik. Keberadaan Bab VI mempunyai peran untuk memberikan landasan pedagogis untuk membentuk dan mengembangkan rencana pembelajaran secara sistematis, reflektif, dan adaptif bagi pendidik.
Bab VII menjelaskan bahwa pembelajaran dilaksanakan secara bermutu yang tidak hanya melibatkan model penyampaian materi, akan tetapi proses sistematis, interaktif, dan mempunyai orientasi untuk meraih tujuan pembelajaran. Keterlibatan keselarasan antara perencanaan, interaksi kelas, penggunaan media, penilaian, dan refleksi sebagai bahan dasar evaluasi berkelanjutan merupakan komponen yang berperan penting dalam mewujudkan mutu pelaksanaan pembelajaran. Bab ini mempunyai fokus pada peserta didik sebagai subjek pusat aktif yang dilibatkan melalui pelaksanaan dialog, pertanyaan terbuka, dan partisipasi yang secara langsung mendorong pembentukan dan pengembangan keberanian untuk mengutarakan pendapat yang dimiliki, kemampuan untuk berpikir kritis, dan kreativitas, sedangkan pendidik mempunyai peran sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya pembelajaran agar tujuan yang telah ditetapkan tercapai.
Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan melalui penyusunan yang mempertimbangkan pendahuluan, inti, dan penutup yang berkaitan. Tahap pendahuluan mempunyai peran sebagai persiapan kondisi psikologis dan kognitif peserta didik untuk hari ini, tahap inti mempunyai peran untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan serta komunikasi dalam bentuk dialog yang dibutuhkan peserta didik, tahap penutup mempunyai peran sebagai akhir yang melihat dan menilai kesimpulan yang didapatkan oleh peserta didik atas pengetahuan dan keterampilan serta penilaian dan evaluasi yang dibutuhkan sebagai tindak lanjut untuk memperbaiki atau mengembangkan hasil belajar peserta didik lebih lanjut. Penyusunan struktur secara kronologis merefleksikan bahwa setiap tahapan mempunyai fungsi yang penting dan tidak dapat dipisahkan. Keberadaan Bab VII memberikan pengetahuan terhadap pendidik yang dapat digunakan sebagai landasan praktis dalam pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran secara kronologis yang melibatkan aktivitas partisipatif, dialogis, dan orientasi terhadap ketercapaian pengalaman belajar holistik.
Bab VIII menjelaskan bahwa evaluasi tidak hanya sekadar memberikan nilai berlandaskan indikator yang telah ditetapkan, akan tetapi juga melibatkan aktivitas untuk mengumpulkan, memilah, dan memberikan pemaknaan atas hasil belajar yang diraih peserta didik melalui informasi yang didapatkan. Perbedaan yang dimiliki pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan landasan dasar yang membentuk kekuatan untuk memahami fungsi dari setiap pembuatan dan pengambilan keputusan serta perbaikan yang dibutuhkan. Pembahasan yang melibatkan beragam bentuk evaluasi seperti formatif, sumatif, diagnostik, selektif, dan penempatan serta asesmen dari atau untuk, dan sebagai pembelajaran merefleksikan bahwa penilaian mempunyai peran yang beragam dan tidak hanya berakhir pada tahap akhir dalam bentuk ujian.
Bab ini juga menjelaskan bahwa pemahaman yang dimiliki pendidik tidak hanya terbatas pada teknik tes dan non-tes seperti tes tertulis atau verbal yang disampaikan secara lisan, dan beragam bentuk tangible lainnya seperti proyek atau produk serta portofolio. Keanekaragaman teknik tersebut secara langsung menyatakan bahwa pembelajaran tidak hanya terbatas pada teknik tertentu, melainkan bisa digunakan dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, komponen yang dinilai, dan instrumen penilaian yang digunakan. Hasil evaluasi digunakan sebagai diagnosa untuk mendapatkan informasi mengenai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki peserta didik. Keberadaan Bab VIII memberikan informasi yang dapat membentuk dan mengembangkan pemahaman atas landasan konseptual dan praktis mengenai evaluasi pembelajaran diharuskan untuk dilakukan secara sistematis, dan sesuai tujuan agar mampu untuk memberikan pemahaman yang komprehensif atas hasil belajar peserta didik.
Bab IX menjelaskan bahwa kualitas pembelajaran mempunyai relevansi dengan kualitas profesi pendidik yang dapat dilihat melalui komponen seperti tugas pokok, kompetensi, dan latar belakang pendidikan yang menunjang profesionalismenya. Pendidik tidak hanya mempunyai tugas dalam mengajar, akan tetapi juga menjadi pendidik, dan pembimbing sekaligus role model untuk agent of change yang diwajibkan untuk mempunyai pengetahuan, keterampilan, integritas, dan moral serta kesadaran diri atas kondisi sosial yang terjadi. Melalui perbandingan sistem pendidikan di negara seperti Finlandia, Singapura, Indonesia, dan China merefleksikan bahwa setiap negara mempunyai beragam karakteristik untuk membangun profesionalisme pendidik yang dimulai dari pendidikan yang tinggi dan berkualitas serta berbasis riset, seleksi yang mempunyai peluang untuk lolos kecil, pengembangan profesi guru yang terpusat dan berkelanjutan, dan pelaksanaan pelatihan dalam jabatan yang dilaksanakan secara sistematis dan arah karir yang sudah ditetapkan. Pada negara Indonesia, Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan jalur utama untuk pembentukan dan pengembangan profesionalisme pendidik yang direpresentasikan oleh Sertifikat Pendidik (Serdik). Perbandingan negara Finlandia, Singapura, Cina, dan Indonesia menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan tidak terletak pada metode yang sama, akan tetapi menerapkan tahapan kronologis yang hampir sama seperti pelaksanaan seleksi berkualitas, pengembangan profesional berkelanjutan, dan dukungan dari pemerintah daerah dan pusat atau institusi yang dilaksanakan secara konsisten serta menempatkan pendidikan sebagai prioritas termasuk komponen pendukungnya. Keberadaan Bab IX mempunyai fungsi untuk memberikan pengetahuan mengenai perbandingan bagaimana pendidikan dilaksanakan di beragam negara dan bagaimana investasi yang dilaksanakan untuk membentuk dan mengembangkan profesionalisme pendidik melalui sistem yang menyesuaikan karakteristik negaranya yang mempunyai tujuan untuk meraih pendidikan berkualitas atau bermutu.
Buku ini mempunyai kelebihan yang terletak pada penataan materi yang secara kronologis memulai dari materi dasar seperti konsep dasar belajar dan pembelajaran, teori belajar, model pembelajaran, motivasi, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan membahas mengenai profesionalisme pendidik termasuk komparasi di beragam negara seperti Finlandia, Singapura, Cina, dan Indonesia. Alur yang dapat dipahami secara bertingkat memberikan kemudahan bagi pembaca terutama yang mempunyai profesi sebagai pendidik untuk memahami relevansi teori yang ada dan praktik pembelajaran.
Buku ini juga mempunyai kekurangan terutama pembahasan untuk setiap materi yang mempunyai tendensi untuk dijelaskan secara deskriptif tanpa adanya kritik atas setiap pembahasan yang ada di setiap materi, perbedaan sudut pandang, dan kondisi yang dibutuhkan untuk diimplementasikan untuk setiap gagasan masih belum dibahas secara mendalam. Sementara itu, perbadingan sistem pendidikan hanya membandingkan persamaan satu sama lain tanpa mempertimbangkan hambatan atau kendala dalam implementasinya terutama negara Indonesia.
Oleh : Mufti Nawang Prastiko (Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan UM)