dilansir.id
March 14, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
dilansir.id
March 14, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
Opini

Huda Sha’arawi: Tirai, Tubuh, dan Ingatan yang Memberontak

Redaksi Dilansir.id
Redaksi Dilansir.id
January 27, 2026
0 Comments

Dilansir.id, Opini – Berbicara tentang gerakan feminisme moderen di Timur-Tengah, tentu tak bisa kita lepaskan dari gerakan feminis yang berlangsung di Mesir pada penghujung abad sembilan belas hingga pertengahan abad ke dua puluh. Gambaran kehidupan perempuan di Mesir pada saat itu begitu kental akan sistem patriarki. Dogma agama, hingga intervensi kultural membawa kegelisahan pada kalangan perempuan Mesir pada masa itu. Dari beberapa tokoh feminis Timur-Tengah khususnya yang berasal dari Mesir, terdapat salah satu nama yang jarang terdengar hari ini, namun perjuangannya sangat menarik untuk ditelisik lebih dalam. Ia bernama Huda Sha’rawi.

Huda Sha‘rawi (هدى شعراوي), perempuan yang berasal dari Minya, salah satu kota berjarak sekitar 270 km dari selatan kota Kairo, Mesir. Lahir di Minya pada tahun 1879 dan dibesarkan di Kairo hingga wafat pada 1947. Ia dikenal sebagai tokoh pelopor feminisme Mesir dan dunia Arab, aktivis nasionalisme anti-kolonial, serta pendiri Egyptian Feminist Union (EFU) pada 1923. Huda memiliki latarbelakang keluarga mentereng, berasal dari keluarga elite birokrasi Ottoman-Mesir; ayahnya, Muhammad Sultan Pasha, merupakan pejabat tinggi dan nasionalis yang berpengaruh. Sementara Ibunya adalah keturunan bangsawan Turki dari rumpun ras Siskasia. Latar sosial sebagai keluarga bangsawan, memberi Huda akses yang lebih pada pendidikan daripada perempuan lainnya di Mesir, tetapi justru akses pendidikan itu sekaligus membelenggunya dalam sistem patriarki elite yang ketat.

Gambaran kehidupan perempuan bangsawan di Mesir saat itu di tuliskan oleh Huda dalam Memoarnya yang berjudul Mudzakirati. Memoar ini juga telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan Judul Harem Years. Memoarnya menjadi sumber utama untuk memahami kehidupan perempuan kelas atas Mesir akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, khususnya pengalaman hidup di harem, pernikahan, dan kesadaran politiknya. Huda menggambarkan masa kecilnya sebagai kehidupan yang mewah namun terkurung. Setelah ayahnya wafat ketika ia masih kecil, Huda dibesarkan dalam rumah besar yang dikuasai oleh ibu, pelayan, dan figur otoritas perempuan lain, tetapi tetap berada dalam kendali sistem patriarki laki-laki yang tidak hadir secara fisik namun dominan secara struktural.

Huda tidak mengenyam pendidikan formal seperti orang pada umumnya, ia menerima pendidikan privat. Ia diajari membaca, menulis, sastra Arab, Al-Qur’an, bahasa Prancis, dan etika sosial. Pendidikan itu membawanya pada kesadaran baru, bahwa pendidikan yang dilaluinya selama ini bukan bertujuan pada pembebasan, melainkan ia hanya dibentuk menjadi perempuan yang layak untuk dinikahi dalam pernikahan kaum elit. Kesadaran itu membawanya pada kegelisahan yang pelik, Huda mulai menyadari adanya kontradiksi antara kecerdasan intelektual dan keterbatasan ruang geraknya sebagai perempuan. Pikirannya diajari untuk bebas, sementara tubuhnya dikurung dalam lingkungan yang di sebut Harem.

Lingkungan Harem dalam memoar Huda tidak digambarkan sebagai ruang sensual seperti dalam imajinasi orientalis Barat, melainkan sebagai ruang domestik tertutup yang penuh disiplin, hierarki, dan kontrol. Harem adalah simbol isolasi sosial perempuan, tempat di mana tubuh perempuan dijaga, mobilitas dibatasi, dan suara mereka diredam. Huda menulis tentang kehidupan yang dilaluinya selama di Harem, dimana terdapat larangan keluar rumah tanpa izin, pemisahan ketat antara dunia laki-laki dan perempuan, kompetisi dan ambiguitas antara perempuan, serta pola kehidupan monoton yang berputar pada rutinitas domestik dan ritual sosial. Pengalamannya di Harem menjadi pondasi kokoh atas bangunan kesadaran feminisnya: bahwa penindasan perempuan bukanlah persoalan individu semata melainkan lebih dari itu, sebuah sistem sosial yang telah dilembagakan secara turun-temurun.

Puncaknya terjadi ketika masa depannya direnggut, ia dinikahkan diusia yang sangat muda dengan sepupunya, Ali Sha‘rawi Pasha, seorang elite politik. Pernikahan ini menjadi salah satu titik terendah yang dialaminya. Sebagai perempuan remaja berusia 13 tahun ia dipaksa menikahi lelaki yang tak lain adalah sepupunya sendiri, parahnya lagi keduanya terpaut usia yang sangat jauh. Dalam memoarnya, pernikahan ini digambarkan sebagai pengalaman traumatis dan penuh ketimpangan. Suaminya telah memiliki istri lain (poligami), dan Huda mengalami keterasingan emosional serta ketidakadilan domestik. Karena pernikahan yang tidak berdasar pada pilihannya, Huda memilih untuk melawan dengan caranya sendiri. Ia memilih pisah ranjang selama bertahun-tahun, sebuah tindakan yang sangat radikal pada masanya. Pengalaman pernikahan ini memperdalam kritiknya terhadap institusi perkawinan patriarkal yang menjadikan perempuan sebagai objek, bukan subjek relasi. Namun kemudian, setelah rekonsiliasi dalam rumah tangganya, pernikahan mereka menjadi lebih setara meski tetap tidak sepenuhnya bebas dari struktur patriarki.

Kegelisahan yang dialaminya, tak berhenti sebatas pada kegelisahan, ia memantapkan kesadaran individualnya hingga berkembang menjadi kesadaran kolektif. Ia mulai membangun jaringan, berkonsolidasi dengan perempuan elite Mesir lainnya. Ia terlibat dalam berbagai program kegiatan amal, pendidikan perempuan, dan diskusi politik terselubung. Momentum penting terjadi saat Revolusi Nasional Mesir tahun 1919 melawan kolonialisme Inggris. Revolusi ini menjadi panggung besarnya, Huda memimpin demonstrasi perempuan pertama di Mesir, menandai masuknya perempuan ke ruang publik politik. Dari sinilah konsolidasi perempuan berubah dari kegiatan sosial menjadi gerakan kesadaran politik. Puncak pergerakan Huda adalah pendirian Egyptian Feminist Union (EFU) pada 1923. Gerakan ini menuntut: Pendidikan bagi perempuan, Reformasi hukum keluarga, Pembatasan poligami, Usia minimum pernikahan, Partisipasi perempuan dalam kehidupan publik. Ia juga mendirikan Mabarat Muhammad Ali, sebuah lembaga sosial yang berfokus pada pelayanan kesehatan dan pendidikan. Tindakan simboliknya yang paling terkenal adalah ketika ia dan rekan-rekannya melepas cadar (veil) di stasiun kereta Kairo sepulang dari konferensi feminis internasional di Roma, Italia. Tindakan ini merupakan sebuah aksi politik simbolik yang mengguncang norma sosial Mesir kala itu.

Gerakan yang dilakukan oleh Huda bersama kelompoknya menjadi titik balik gerakan feminisme diwilayah lainnya. Corak yang terbangun dalam gerakan feminisme Huda Sha’arawi dicirikan sebagai gerakan feminisme liberal-reformis, yang menekankan aspek keadilan untuk perempuan diranah pendidikan dan hukum. Gerakannya juga berciri nasionalisme feminis, ia mampu mengaitkan antara pembebasan perempuan dan solidaritas untuk kemerdekaan bangsa. Namun gerakannya juga bisa disebut cenderung elitis, karena merupakan gerakan yang berakar pada pengalaman perempuan bangsawan. Perjuangan Huda melawan dogma agama dan sistem sosial yang berlaku pada masa itu. Ia tidak menolak Islam secara frontal, tetapi mengkritik tafsir patriarkal atas agama. Perjuangannya bersifat gradual(berangsur-angsur), institusional, dan simbolik.

Meski progresif, Huda Sha‘rawi tidak luput dari kritik. Pertama, gerakannya terbatas pada perempuan kelas elite, ia dipandang kurang menyentuh perempuan kelas pekerja dan pedesaan. Kedua, fokusnya pada simbol seperti pelepasan cadar kerap dianggap mengabaikan persoalan ekonomi-politik yang lebih struktural. Ketiga, feminisme Huda cenderung reformis, bukan radikal, sehingga tidak sepenuhnya membongkar patriarki sebagai sistem produksi dan kekuasaan. Namun demikian, dalam konteks zamannya, Huda Sha‘rawi adalah figur pelopor yang membuka pintu, bukan penutup perdebatan. Memoarnya bukan hanya catatan personal, melainkan dokumen politik tentang lahirnya kesadaran feminis Arab modern.

Penulis : Nurlatipah M.Pd
(Peneliti & Penerjemah)
___________________________

• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.

Tags:

feminisme moderenHuda Sha‘rawiTimur-Tengah

Share Article

Redaksi Dilansir.id
Follow Me Written By

Redaksi Dilansir.id

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler
Usai Bahas Remiliterisme, Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras
Redaksi Dilansir.id
Kasus Dugaan Investasi Bodong di Sidoarjo Rigikan Ratusan Juta Rupiah, Artee Law Office Dampingi Pelapor
Redaksi Dilansir.id
Aliansi BEM Surabaya Gelar Sarasehan Ngabuburit Kebangsaan, Bahas Peran Mahasiswa Menuju Indonesia Emas 2045
Redaksi Dilansir.id
Polemik SK HMI Cabang Ketawanggede, Ketua Umum HMI Cabang Malang Soroti Mekanisme di PB HMI
Redaksi Dilansir.id
Perkuat Sinergi Kaderisasi, HMI Koorkom UMM Gelar Silaturahmi Buka Puasa Bersama KAHMI dan Alumni
Redaksi Dilansir.id
HMI Cabang Pamekasan dan Satlantas Polres Pamekasan Jalin Silaturahmi, Perkuat Kolaborasi Wujudkan Keselamatan Berlalu lintas
Redaksi Dilansir.id

Artikel Terkait

Opini
Merawat Takbir di Tengah Kesunyian Bali
Redaksi Dilansir.id
March 12, 2026
Opini
Mengutuk Keras Kebiadaban AS dan Israel
Redaksi Dilansir.id
March 2, 2026
Opini
Budaya Curiga, Krisis Percaya
Redaksi Dilansir.id
February 28, 2026
Opini
Integritas, Ketika “Kita” Harus Bercermin
Redaksi Dilansir.id
February 27, 2026
dilansir.id

Dilansir.id menghadirkan jurnalisme independen, beretika, dan terpercaya untuk publik melalui informasi faktual dan berimbang.

© 2025

Kontak Kami
Terbaru
Usai Bahas Remiliterisme, Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras
March 13, 2026
Aliansi BEM Surabaya Gelar Sarasehan Ngabuburit Kebangsaan, Bahas Peran Mahasiswa Menuju Indonesia Emas 2045
March 13, 2026
Kontak Kami
  • Mojosantri Indah, Kav 20, Kajang Santren, Desa Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu
  • (+62) 85385292755
  • mediadilansir@gmail.com
Kanal Utama
  • Pedoman Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kerja Sama

Follow Us in Our Social Media

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran