dilansir.id
October 30, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
dilansir.id
October 30, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
Opini

Jarak Antara Ucapan dan Komitmen: Potret Relasi Bupati Situbondo dengan NU

Redaksi Dilansir.id
Redaksi Dilansir.id
February 9, 2026
0 Comments

Dilansir.id, Opini – Cinta, kata orang, selalu mudah diucapkan. Tapi justru di situlah ujian terberatnya: apakah ia berhenti di bibir, atau turun menjadi laku. Sebab dalam dunia yang penuh pencitraan, pernyataan cinta seringkali terdengar lantang, namun sepi dari kesungguhan.

Hal inilah yang mengemuka ketika kita menyoal relasi Bupati Situbondo dengan Nahdlatul Ulama. Di berbagai forum, pernyataan dukungan kepada NU terdengar tegas. Bahkan, pernah disampaikan dengan penuh semangat kesiapan Situbondo menjadi tuan rumah Muktamar NU. Sebuah pernyataan besar, yang semestinya lahir dari komitmen besar pula. Sayangnya, waktu justru memperlihatkan cerita yang berbeda.

Undangan demi undangan dari PCNU Situbondo tak pernah benar-benar dijawab dengan kehadiran. Ketidakhadiran yang berulang ini perlahan berbicara lebih jujur daripada pidato yang panjang. Sebab dalam relasi sosial, hadir adalah bahasa paling elementer dari kepedulian. Tanpa kehadiran, cinta mudah berubah menjadi sekadar slogan.

Di ranah kebijakan, situasinya tak jauh berbeda. Dana hibah untuk pesantren NU mulai dikurangi. Lebih dari itu, bantuan khusus untuk PCNU Situbondo bahkan dihapus sama sekali. Padahal, dalam tradisi NU, pesantren dan jam’iyah bukan sekadar institusi, melainkan pusat peradaban, tempat nilai, ilmu, dan akhlak dirawat. Ketika dukungan anggaran dipangkas, yang terluka bukan hanya lembaga, tetapi juga harapan banyak orang.

Ironisnya, dalam berbagai pengambilan kebijakan sosial-keagamaan, NU justru sering tidak diajak duduk bersama. Sebuah ironi di daerah yang denyut keagamaannya begitu lekat dengan tradisi nahdliyyin. Organisasi sebesar NU, dengan jejaring pesantren dan basis sosial yang luas, semestinya menjadi mitra strategis, bukan sekadar pelengkap seremoni.

Bahkan di sektor kesehatan, dukungan kepada rumah sakit milik NU pun terasa amat minim. Padahal, di sanalah wajah pelayanan sosial NU tampil paling konkret: melayani yang lemah, merawat yang sakit, dan menyapa mereka yang tak punya pilihan.

Dari sini, jarak antara kata dan perbuatan terasa semakin menganga. Cinta yang diumumkan dengan lantang ternyata belum menjelma menjadi kebijakan yang berpihak. Komitmen yang diikrarkan belum benar-benar turun menjadi tindakan yang dirasakan.

Padahal, warga NU tidak menuntut berlebihan. Mereka hanya berharap satu hal sederhana: kejujuran. Jika memang mencinta, buktikan dengan hadir, dengan melibatkan, dengan mendukung. Sebab cinta, dalam tradisi etika para kiai, bukan soal retorika, melainkan khidmah.

Pada akhirnya, kepercayaan tidak dibangun dari baliho dan pidato, tetapi dari konsistensi. Dari kesetiaan merawat janji. Dari keberanian menjadikan kata sebagai perbuatan.

Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag
(Ketua JASMINU Situbondo / Ketua DPD PAN Situbondo)
___________________________

• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.

Tags:

Bupati SitubondoNahdlatul UlamaNUPCNU Situbondo

Share Article

Redaksi Dilansir.id
Follow Me Written By

Redaksi Dilansir.id

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
Redaksi Dilansir.id
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
Redaksi Dilansir.id
Kolaborasi MI Al Fattah Darussalam dan MINU Sumberpasir Malang, Perkuat Sinergi Pendidikan di Hari Santri 2026
Redaksi Dilansir.id
Lintas Gunung Kangayan, Sang Raja Bertahan Datang dengan Modal Juara Ganda
Redaksi Dilansir.id
IJPTI Resmi Berbadan Hukum, Matnadir Siapkan Audiensi dengan Pemangku Wilayah Malang Raya
Redaksi Dilansir.id
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Insan Budi Utomo Malang
Mahasiswa PBSI UIBU Malang Observasi Jejak Sejarah dan Budaya di Situs Petirtaan Ngawonggo
Redaksi Dilansir.id

Artikel Terkait

Oleh: Ach. Syaifur Rizal (Advokat/Konsultan Hukum)
Opini
Menagih Negara di Kepulauan Kangean: Antara Potensi Alam dan Anomali Pembangunan
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Oleh: Usman Adhim Hasan, S.H.I (Pemerhati & Pegiat Pendidikan)
Opini
Antara By Problem Dengan By Design System (Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren)
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag (Ketua JASMINU Situbondo)
Opini
Pasca-Muktamar Jombang, Saatnya IKSASS Merebut Posisi Strategis di NU
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Opini
Dari Paket ke Jam’iyah, Muktamar NU dan Ujian Kedewasaan Berorganisasi
Redaksi Dilansir.id
August 31, 2026
dilansir.id

Dilansir.id menghadirkan jurnalisme independen, beretika, dan terpercaya untuk publik melalui informasi faktual dan berimbang.

© 2025

Kontak Kami
Terbaru
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
October 28, 2026
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
October 25, 2026
Kontak Kami
  • Mojosantri Indah, Kav 20, Kajang Santren, Desa Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu
  • (+62) 85385292755
  • mediadilansir@gmail.com
Kanal Utama
  • Pedoman Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kerja Sama

Follow Us in Our Social Media

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran