dilansir.id
October 30, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
dilansir.id
October 30, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag (Ketua JASMINU Situbondo)
Opini

Pasca-Muktamar Jombang, Saatnya IKSASS Merebut Posisi Strategis di NU

Redaksi Dilansir.id
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
0 Comments

Dilansir.id, Opini – Muktamar Jombang telah usai, tapi gaung beserta pekerjaan rumahnya sama sekali belum tuntas. Bagi organisasi-organisasi alumni pesantren, momentum lima tahunan ini semestinya tidak sekadar dilewati sebagai seremoni menonton dari kejauhan. Lebih dari itu, ia harus dijadikan titik refleksi, sejauh mana kontribusi kita sebagai representasi struktural di tubuh Nahdlatul Ulama? Pertanyaan relevan yang perlu disematkan kepada IKSASS (Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah), wadah yang menaungi alumni Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo.

Sebuah pertanyaan pemantik mengiringi permenungan ini, sudah sebandingkah kontribusi struktural alumni Sukorejo dengan jumlah serta kualitas keilmuan yang mereka miliki? Jika jawabannya belum, Muktamar Jombang merupakan momen tepat untuk berhenti sejenak sambil menata ulang arah.

Alumni Pondok Sukorejo tersebar merata di hampir seluruh penjuru Nusantara. Dari Jawa sampai Nusa Tenggara, dari Sumatra hingga Kalimantan, sulit menemukan wilayah yang luput dari sentuhan jaringan dakwah para alumni pesantren ini. Ironisnya, sebaran yang luas tersebut ternyata tidak berbanding lurus dengan representasi mereka di jajaran struktural NU.

Ambil contoh kasus Lombok. Mayoritas alumni pesantren yang mengabdi langsung di tengah masyarakat di sana adalah lulusan Sukorejo. Mereka aktif mengajar, membina majelis taklim, memimpin pengajian rutin, sekaligus menjadi rujukan keagamaan bagi warga sekitar. Kendati demikian, tatkala berbicara soal struktur formal kepengurusan — mulai dari tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC), Pengurus Cabang (PCNU), hingga Pengurus Wilayah (PWNU) — kursi-kursi strategis itu justru lebih banyak dipegang oleh alumni pondok pesantren lain.
Dampak kondisi ini terasa begitu nyata tatkala NU menggelar hajatan-hajatan besar, termasuk Muktamar. IKSASS kerap kesulitan mengambil peran signifikan dalam menentukan arah kebijakan organisasi. Hal tersebut terjadi bukan karena kalah kualitas keilmuan, melainkan akibat minimnya representasi di ruang-ruang pengambilan keputusan.

Persoalan mendasar ini perlu dibedah lebih dalam agar solusi yang dihadirkan tidak salah sasaran. Terdapat perbedaan nyata antara “aktif” secara individu dengan “menduduki posisi kunci” secara struktural. Banyak alumni Sukorejo yang aktif berdakwah, mengajar kitab kuning, serta membina pesantren atau majelis taklim secara mandiri. Akan tetapi, aktivitas semacam itu bersifat personal sehingga tidak otomatis terkonversi menjadi pengaruh di meja kebijakan NU.

Selama ini pula, belum ada mekanisme yang secara sistemik mendorong — apalagi mewajibkan — para alumni untuk terjun ke jenjang struktural NU. Segala sesuatunya masih berjalan atas inisiatif pribadi masing-masing individu, tanpa panduan maupun peta jalan yang jelas dari organisasi induk.

Kemungkinan besar, IKSASS pun belum memiliki sistem kaderisasi khusus yang secara spesifik menyiapkan alumni untuk mengemban peran kepemimpinan organisasi modern. Sejauh ini, pola kaderisasi yang berjalan masih menitikberatkan pada penguatan ilmu agama dan kitab kuning yang memang menjadi kekuatan utama alumni Sukorejo, namun belum disertai pembekalan setara untuk tata kelola organisasi skala besar seperti NU.

Bertolak dari akar masalah tersebut, sejumlah langkah strategis perlu segera dipertimbangkan oleh IKSASS ke depan:
Mendorong secara kuat — bahkan bila perlu mewajibkan — para alumni untuk aktif di tubuh NU, bukan sekadar tercatat sebagai anggota biasa, melainkan diarahkan menduduki posisi-posisi strategis di berbagai tingkatan kepengurusan.
Membangun sistem kaderisasi khusus yang dirancang secara matang guna menjaring kader terbaik dari kalangan alumni yang telah mumpuni dalam penguasaan ilmu agama dan kitab kuning, lalu membekali mereka wawasan kepemimpinan organisasi serta pemahaman ke-NU-an secara utuh.
Melakukan pemetaan potensi alumni di setiap wilayah agar IKSASS memiliki data pasti mengenai kader-kader yang layak didorong masuk ke dalam struktur MWC, PCNU, hingga PWNU di daerah masing-masing.
Merajut sinergi antara IKSASS pusat dan jaringan alumni di daerah supaya dukungan terhadap kader yang didorong masuk struktur berjalan terkoordinasi rapi, tidak lagi sporadis serta berjalan sendiri-sendiri seperti sebelumnya.

Representasi struktural bukanlah sekadar soal memperebutkan jabatan, melainkan tentang bagaimana memegang pengaruh nyata dalam menentukan kebijakan serta arah gerak NU ke depan. Modal keilmuan kitab kuning yang menjadi ciri khas alumni Sukorejo bakal menjelma sebagai nilai tambah luar biasa manakala diarahkan untuk mengisi posisi-posisi strategis tersebut.

Posisi tawar IKSASS dalam forum-forum besar NU, termasuk Muktamar berikutnya, akan jauh lebih diperhitungkan tatkala representasi mereka menguat. Suara serta gagasan dari kalangan alumni Sukorejo pun otomatis lebih mudah terserap menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan organisasi.

Muktamar Jombang sepatutnya berfungsi sebagai momentum evaluasi sekaligus titik tolak bagi arah baru IKSASS. Tujuannya bukan untuk berpuas diri pada kebanggaan atas keilmuan serta jumlah alumni yang besar, melainkan untuk mulai serius menata langkah menuju representasi struktural yang setara dengan potensi nyata mereka. Pada akhirnya, keilmuan yang tinggi tanpa ditopang posisi strategis akan sulit memberikan dampak luas bagi perjalanan Nahdlatul Ulama di masa mendatang.

5 Wasiat K.H.R. As’ad Syamsul Arifin

1. Santri Sukorejo yang keluar dari NU, jangan berharap berkumpul dengan saya di akhirat.
2. Santri saya yang pendiriannya tidak sama dengan saya, saya tidak bertanggung jawab di hadirat Allah SWT.
3. Santri saya yang pulang atau berhenti, harus ikut mengurusi dan memikirkan paling tidak salah satu dari yang tiga:
– Pendidikan Islam
– Dakwah melalui NU
– Ekonomi Masyarakat
“Biar alim, biar kaya tapi tidak ikut salah satu dari yang tiga, saya ingin tau kesempurnaan hidupnya. Sebaliknya, biar bodoh, biar miskin tapi ikut mengurusi atau cawe-cawe paling tidak salah satunya dengan ikhlas, rasakan sendiri kesempurnaan hidupnya”.
4. Istiqamah baca Ratibul Haddad.
Jadi pagar dan terhindar dari asah (merosot). Kalau tani, taninya tidak asah. Kalau dagang, dagangannya tidak asah.
Kalau punya santri, santrinya tidah asah
5. Santri saya sebenarnya umum, anak siapa saja, dalam keadaan bagaimana saja, pasti selamat dan jaya asal Jujur, Giat dan Ikhlas.

Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag
(Ketua JASMINU Situbondo)
___________________________

• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.

Tags:

Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi'iyahIKSASSMuktamar JombangNahdlatul UlamaPondok Pesantren SukorejoSitubondo

Share Article

Redaksi Dilansir.id
Follow Me Written By

Redaksi Dilansir.id

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
Redaksi Dilansir.id
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
Redaksi Dilansir.id
Kolaborasi MI Al Fattah Darussalam dan MINU Sumberpasir Malang, Perkuat Sinergi Pendidikan di Hari Santri 2026
Redaksi Dilansir.id
Lintas Gunung Kangayan, Sang Raja Bertahan Datang dengan Modal Juara Ganda
Redaksi Dilansir.id
IJPTI Resmi Berbadan Hukum, Matnadir Siapkan Audiensi dengan Pemangku Wilayah Malang Raya
Redaksi Dilansir.id
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Insan Budi Utomo Malang
Mahasiswa PBSI UIBU Malang Observasi Jejak Sejarah dan Budaya di Situs Petirtaan Ngawonggo
Redaksi Dilansir.id

Artikel Terkait

Oleh: Ach. Syaifur Rizal (Advokat/Konsultan Hukum)
Opini
Menagih Negara di Kepulauan Kangean: Antara Potensi Alam dan Anomali Pembangunan
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Oleh: Usman Adhim Hasan, S.H.I (Pemerhati & Pegiat Pendidikan)
Opini
Antara By Problem Dengan By Design System (Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren)
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag (Ketua JASMINU Situbondo)
Opini
Pasca-Muktamar Jombang, Saatnya IKSASS Merebut Posisi Strategis di NU
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Opini
Dari Paket ke Jam’iyah, Muktamar NU dan Ujian Kedewasaan Berorganisasi
Redaksi Dilansir.id
August 31, 2026
dilansir.id

Dilansir.id menghadirkan jurnalisme independen, beretika, dan terpercaya untuk publik melalui informasi faktual dan berimbang.

© 2025

Kontak Kami
Terbaru
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
October 28, 2026
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
October 25, 2026
Kontak Kami
  • Mojosantri Indah, Kav 20, Kajang Santren, Desa Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu
  • (+62) 85385292755
  • mediadilansir@gmail.com
Kanal Utama
  • Pedoman Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kerja Sama

Follow Us in Our Social Media

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran