dilansir.id
October 30, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
dilansir.id
October 30, 2026
dilansir.id
Quick Access
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Sastra
    • Sosok
  • Lifestyle
    • Kuliner
    • Wisata
    • Tips & Trik
  • E-Koran
Opini

Geopolitik Hijau dan Arsitektur Kepemimpinan Global: Menavigasi Ketegangan Transisi Industri Transnasional demi Kedaulatan Ekologi Masa Depan

Redaksi Dilansir.id
Redaksi Dilansir.id
August 7, 2026
0 Comments

Dilansir.id, Opini – Perubahan iklim telah menggeser peta persaingan global. Jika pada abad ke-20 perebutan minyak menjadi penentu kekuatan geopolitik, maka pada abad ke-21 perebutan teknologi hijau, mineral kritis, energi terbarukan, dan rantai pasok rendah karbon menjadi arena kompetisi baru. Fenomena ini melahirkan apa yang kini dikenal sebagai green geopolitics atau geopolitik hijau, yaitu dinamika hubungan internasional yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, teknologi, dan lingkungan secara bersamaan.

Namun, di balik narasi transisi hijau yang digaungkan dunia, tersimpan paradoks yang tidak dapat diabaikan. Agenda dekarbonisasi global memang bertujuan menyelamatkan bumi, tetapi implementasinya kerap memperdalam ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang. Negara-negara industri berlomba mengamankan pasokan nikel, litium, kobalt, dan berbagai mineral strategis untuk menopang industri kendaraan listrik dan energi bersih, sementara negara penghasil sumber daya alam masih berisiko terjebak sebagai pemasok bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah.

Dalam konteks tersebut, transisi industri transnasional tidak lagi sekadar persoalan inovasi teknologi, melainkan juga persoalan distribusi kekuasaan. Negara yang menguasai teknologi, pembiayaan hijau, serta standar perdagangan internasional akan memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dibandingkan negara yang hanya menyediakan sumber daya alam. Akibatnya, isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pertarungan kepentingan geopolitik global.

Indonesia berada pada persimpangan strategis. Sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia memiliki modal untuk menjadi aktor penting dalam ekonomi hijau global. Akan tetapi, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila kebijakan nasional tidak berhenti pada hilirisasi industri semata, melainkan juga diarahkan pada penguasaan teknologi, penguatan riset, pembangunan industri manufaktur hijau, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Di sinilah pentingnya membangun arsitektur kepemimpinan global yang lebih inklusif. Tata kelola lingkungan internasional selama ini masih didominasi oleh kepentingan negara-negara besar melalui berbagai instrumen perdagangan, investasi, dan pembiayaan iklim. Padahal, negara berkembang membutuhkan ruang yang lebih adil untuk menentukan jalur transisinya sendiri tanpa harus mengorbankan pembangunan ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat.

Kepemimpinan global masa depan seharusnya tidak hanya diukur dari kemampuan suatu negara menekan emisi karbon, tetapi juga dari kemampuannya membangun solidaritas internasional. Transfer teknologi, pembiayaan iklim yang berkeadilan, pengembangan kapasitas industri hijau, serta penghormatan terhadap hak masyarakat adat dan komunitas lokal harus menjadi bagian integral dari tata kelola global yang baru. Tanpa prinsip-prinsip tersebut, transisi hijau berisiko berubah menjadi bentuk baru dari ketergantungan ekonomi dan dominasi geopolitik.

Lebih jauh, konsep kedaulatan ekologi perlu ditempatkan sebagai fondasi pembangunan nasional. Kedaulatan ekologi berarti kemampuan suatu bangsa mengelola sumber daya alam secara mandiri, berkelanjutan, dan berkeadilan, tanpa tunduk pada tekanan eksternal yang mengabaikan kepentingan rakyat maupun kelestarian lingkungan. Dengan perspektif ini, eksploitasi sumber daya tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi atau nilai ekspor, tetapi juga dari keberlanjutan ekosistem, nilai tambah domestik, serta manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.

Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai bridge builder antara negara maju dan negara berkembang dalam diplomasi iklim global. Posisi geopolitik yang strategis, pengalaman memimpin berbagai forum internasional, serta kekayaan sumber daya alam memberikan legitimasi bagi Indonesia untuk mendorong tata kelola transisi hijau yang lebih adil dan inklusif. Kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan dunia saat ini: bukan kepemimpinan yang didasarkan pada dominasi, melainkan pada kolaborasi dan tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, geopolitik hijau bukan sekadar tentang siapa yang menguasai energi bersih atau teknologi rendah karbon. Yang dipertaruhkan adalah bagaimana dunia membangun masa depan yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Tanpa arsitektur kepemimpinan global yang berpihak pada keadilan ekologis, transisi hijau hanya akan melahirkan bentuk-bentuk ketimpangan baru dengan wajah yang lebih ramah lingkungan.

Masa depan tidak hanya membutuhkan ekonomi yang hijau, tetapi juga politik global yang berkeadilan. Sebab, hanya melalui keseimbangan antara kedaulatan nasional, kerja sama internasional, dan perlindungan ekologi, transisi menuju peradaban rendah karbon dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan bersama, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan baru.

Penulis: M. Farhan H.
(Ketua Bidang Pembangunan Demokrasi Politik)
___________________________

• Artikel opini ini sepenuhnya merefleksikan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, serta tidak mewakili sikap maupun kebijakan redaksi Dilansir.id
• Rubrik Opini Dilansir.id terbuka bagi khalayak umum. Panjang tulisan minimal antara 600 hingga 1.000 kata, dilengkapi dengan biografi singkat penulis, foto diri, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.
• Naskah opini dapat dikirimkan melalui: mediadilansir@gmail.com.
• Pihak redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kelayakan pemuatan naskah opini yang masuk.

Tags:

Arsitektur Kepemimpinan GlobalGeopolitik HijauKedaulatan Ekologi Masa DepanMenavigasi KeteganganTransisi Industri Transnasional

Share Article

Redaksi Dilansir.id
Follow Me Written By

Redaksi Dilansir.id

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
Redaksi Dilansir.id
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
Redaksi Dilansir.id
Kolaborasi MI Al Fattah Darussalam dan MINU Sumberpasir Malang, Perkuat Sinergi Pendidikan di Hari Santri 2026
Redaksi Dilansir.id
Lintas Gunung Kangayan, Sang Raja Bertahan Datang dengan Modal Juara Ganda
Redaksi Dilansir.id
IJPTI Resmi Berbadan Hukum, Matnadir Siapkan Audiensi dengan Pemangku Wilayah Malang Raya
Redaksi Dilansir.id
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Insan Budi Utomo Malang
Mahasiswa PBSI UIBU Malang Observasi Jejak Sejarah dan Budaya di Situs Petirtaan Ngawonggo
Redaksi Dilansir.id

Artikel Terkait

Oleh: Ach. Syaifur Rizal (Advokat/Konsultan Hukum)
Opini
Menagih Negara di Kepulauan Kangean: Antara Potensi Alam dan Anomali Pembangunan
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Oleh: Usman Adhim Hasan, S.H.I (Pemerhati & Pegiat Pendidikan)
Opini
Antara By Problem Dengan By Design System (Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren)
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Penulis: Ghozi Zainuddin S.Ag (Ketua JASMINU Situbondo)
Opini
Pasca-Muktamar Jombang, Saatnya IKSASS Merebut Posisi Strategis di NU
Redaksi Dilansir.id
September 21, 2026
Opini
Dari Paket ke Jam’iyah, Muktamar NU dan Ujian Kedewasaan Berorganisasi
Redaksi Dilansir.id
August 31, 2026
dilansir.id

Dilansir.id menghadirkan jurnalisme independen, beretika, dan terpercaya untuk publik melalui informasi faktual dan berimbang.

© 2025

Kontak Kami
Terbaru
Stop Bullying! Alfian Fauzi Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Melawan Perundungan
October 28, 2026
Maruli Siahaan Lantik Pengurus DPP HBB Periode 2026–2031, Lamsiang Sitompul Kembali Terpilih sebagai Ketum
October 25, 2026
Kontak Kami
  • Mojosantri Indah, Kav 20, Kajang Santren, Desa Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu
  • (+62) 85385292755
  • mediadilansir@gmail.com
Kanal Utama
  • Pedoman Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kerja Sama

Follow Us in Our Social Media

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Opini
  • Sastra
  • Sosok
  • Kuliner
  • Wisata
  • Tips & Trik
  • E-Koran